Di Filipina, dugaan korupsi dana penanggulangan banjir senilai miliaran peso juga menyulut kemarahan, mendorong warga merencanakan aksi besar-besaran.
Sementara itu, di negara maju seperti Australia, spektrum tuntutan dalam demonstrasi jauh lebih beragam. Ribuan warga di kota-kota besar menyuarakan berbagai isu, mulai dari protes terhadap tingginya biaya hidup, penolakan terhadap rasisme dan kebijakan migrasi, hingga solidaritas untuk Palestina.
Unjuk rasa ini diinisiasi oleh berbagai kelompok aktivis dengan agenda yang berbeda, namun bertemu dalam satu titik: kekecewaan terhadap pemerintah. Keragaman isu ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan publik dapat muncul dari berbagai lini, baik yang bersifat ekonomi, sosial, maupun politik.
Fenomena ini menegaskan bahwa pemerintah di seluruh dunia sedang menghadapi tantangan besar untuk mendapatkan kembali kepercayaan rakyatnya.[dit]
