“Ini yang jadi masalah. Jadi, kesannya orang lagi pakai vape, kesannya lagi merokok, merokok elektrik, tetapi isinya ternyata sabu cair. Isinya etomidate, isinya kimiawi-kimiawi jenis narkotika,” jelas Suyudi.
Lebih lanjut, dari sisi medis, Suyudi membedah isi dari cairan tersebut yang ia istilahkan sebagai “koktail kimia”. Campuran ini meliputi nikotin, propilen glikol, gliserin nabati, hingga zat pemberi rasa seperti diasetil, asetil piridin, dan benzaldehida yang memiliki risiko kesehatan tinggi bagi paru-paru.
Pihak BNN juga menepis klaim bahwa vape adalah alternatif sehat untuk berhenti merokok. Menurutnya, anggapan tersebut justru menjadi pintu masuk bagi adiksi baru yang lebih berbahaya.
“Saya tegaskan di sini bahwa narasi vape sebagai alat bantu berhenti merokok adalah ilusi yang belum terbukti efektif secara ilmiah. Alih-alih sebaliknya, produk ini justru mendapat pintu masuk baru,” ungkapnya.
Lebih lanjut Suyudi menyampaikan bahwa vape telah menjadi sarana efektif untuk mengonsumsi narkoba dan za psikoaktif atau NPS lainnya.
Baca Juga: Kasus Narkoba Mantan Kapolres Bima Kota: Bareskrim Tunggu Hasil Tes Rambut











