Seolah-olah diplomasi itu bukan soal isi pembicaraan, tapi soal siapa yang dapet akses ruang tamu.
Dan yang lebih menarik?
Kita ini negara berdaulat. Bukan anak magang yang excited bisa “diajak ngobrol langsung sama boss besar.”
Tapi narasinya kayak: “Guys, akhirnya kita di-notice.”
Kalau diplomasi diukur dari:
- Seberapa dekat kursinya.
- Seberapa lama jabat tangannya.
- Seberapa sering disebut namanya.
Ya wajar sih kita jadi bangsa yang bangga pada proximity, bukan pada hasil.
Padahal realitas geopolitik itu kejam.
- Trump itu pebisnis.
- Semua dihitung.
- Semua ada harga.
- Semua ada interest.
Dan kalau kita masuk ruangan cuma modal “kedekatan personal” tanpa posisi tawar yang keras, itu bukan bilateral.
Itu pitching.
Dan publik?
Diberi teaser tentang pertemuan. Tentang bilateral. Tentang eksklusivitas.
Tapi tidak diberi detail tentang: Apa yang akan dikorbankan. Apa yang akan dilindungi. Industri mana yang mungkin tertekan. Siapa yang akan menanggung konsekuensi jika negosiasi tidak imbang.
Tapi ya sudahlah.
Di negeri ini, foto bareng bisa lebih viral daripada klausul perjanjian.
Kita lebih gampang bangga pada simbol daripada isi.
Dan mungkin memang itu market yang laku. Karena di era politik konten, yang penting bukan outcome.
Yang penting thumbnail-nya keren.[***]
Penulis: Hamdi Putra, Forum Sipil Bersuara (FORSIBER).











