Gertakan “Locked and Loaded” Donald Trump Alami Kebuntuan di Hadapan Iran

"Ancaman militer."
Pasca kebuntuan negosiasi di Jenewa, kesiapan tempur yang terlihat dalam visual ini mencerminkan risiko besar yang harus dihadapi AS jika melanjutkan petualangan militer ke Iran. Dengan akses komunikasi yang terkunci rapat (deadlock), setiap peluncuran di kawasan ini membawa dunia lebih dekat pada potensi kebakaran kawasan yang coba dihindari oleh banyak negara. (Dok. Ist)

FAKTANASIONAL.NET, INTERNASIONAL– Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencapai titik didih pasca negosiasi tahap II di Jenewa, Swiss.

Meskipun Presiden AS Donald Trump terus melontarkan ancaman militer dan tuntutan keras, pihak Iran dilaporkan tetap bergeming. Situasi ini memicu spekulasi bahwa kebijakan luar negeri “jurus mabuk” Trump mulai kehilangan tajinya di kawasan Timur Tengah.

Wakil Presiden AS, JD Vance, mengakui bahwa Iran sama sekali tidak mematuhi permintaan Amerika Serikat selama pertemuan di Jenewa.

Pengakuan ini mempertegas sikap abai Teheran terhadap rentetan ancaman yang dikeluarkan Gedung Putih dalam beberapa bulan terakhir.

Publik mencatat bahwa ini bukan pertama kalinya Trump mengeluarkan gertakan tanpa realisasi nyata. Awal tahun ini, Trump menjanjikan bantuan bagi demonstran anti-pemerintah Iran dengan slogan

“We are locked and loaded, a help is on its way.” Namun, hingga demonstrasi usai, bantuan yang dijanjikan—yang disebut-sebut melibatkan dukungan Mossad dan CIA—tidak pernah tiba.

Pola serupa berulang ketika Trump mengancam akan menyerang Iran sebelum negosiasi di Oman dan mengirim armada tempur ke Laut Arab untuk memaksa Iran tunduk pada tuntutan AS.

Hingga tenggat waktu “10 hari untuk kesepakatan” yang diberikan Trump berakhir dua hari lalu, tidak ada tindakan militer nyata yang diambil oleh Washington.

Baca Juga: MA Amerika Batalkan Tarif Trump, Indonesia yang Sudah Teken Bagaimana?

Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menanggapi pengerahan kapal induk AS dengan nada santai.

Dalam pidato singkatnya, Khamenei menyebut bahwa meski kapal induk adalah senjata mengerikan, Iran memiliki senjata yang lebih mengerikan yang mampu menenggelamkan armada tersebut ke dasar laut.

Di sisi lain, ketegangan justru terlihat jelas pada sekutu utama AS, Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberikan pidato yang dinilai sangat tegang dan penuh ketakutan.

Netanyahu memperingatkan Iran akan balasan besar jika berani menyerang Israel, sebuah pernyataan yang dianggap mencerminkan trauma atas memori perang 12 hari yang lalu.

Laporan dari lapangan menunjukkan bahwa penumpukan armada tempur AS di Laut Arab mulai menghadapi kendala non-teknis.

Pasukan AS dikabarkan mengalami kelelahan akibat ketidakpastian perintah serangan. Trump berada dalam posisi sulit: mundur akan mempermalukan citra AS di mata dunia, sementara lanjut berperang akan membawa konsekuensi fatal bagi aset militer mereka.

Penasihat keamanan Trump sendiri dilaporkan belum yakin akan kemenangan mutlak melawan Iran.

Kritik tajam dialamatkan pada gaya kepemimpinan Trump yang dinilai narsisistik dan megaloman.

Meskipun saat kampanye ia menjanjikan kebijakan anti-regime change, faktanya ia mencoba menggulingkan pemerintahan di Venezuela dan kini secara terbuka menargetkan Iran.

Trump juga dinilai terlalu tertutup dengan hanya mempercayai lingkaran dalamnya, seperti partner bisnisnya Steve Witkoff dan menantunya Jared Kushner, sebagai utusan khusus.

Upaya Trump untuk membuka jalur komunikasi langsung dengan Ali Khamenei pun terus menemui jalan buntu (deadlock), menandakan bahwa Teheran sama sekali tidak menganggap serius ancaman maupun tawaran dari Washington.

Baca Juga: Eskalasi Militer di Suriah: Serangan Balasan AS Terhadap Basis ISIS

Exit mobile version