“Risiko perang Iran-AS yang masih berlanjut menimbulkan kekhawatiran kenaikan harga BBM dan inflationary pressure,” jelas Bhima.
Lebih lanjut, ia menyoroti potensi melebarnya defisit APBN jika pemerintah dipaksa menanggung beban subsidi energi yang membengkak. Situasi fiskal ini pun mulai mendapatkan perhatian serius dari lembaga pemeringkat internasional.
“Peringatan dari Moody’s dan Fitch Ratings mulai price in di pasar, termasuk warning dari S&P Global Ratings soal situasi fiskal,” ungkapnya.
Skenario Terburuk: Resesi
Menutup analisisnya, Bhima memberikan peringatan keras mengenai prospek ekonomi Indonesia dalam waktu dekat.
Jika tekanan kurs dan harga minyak tidak segera teratasi, probabilitas Indonesia jatuh ke jurang resesi pada periode mendatang menjadi sangat terbuka.
“Yang terburuk probabilitas Indonesia masuk resesi di kuartal II meningkat,” pungkas Bhima.










