FAKTANASIONAL.NET – Nilai tukar Rupiah yang melemah hingga menembus level Rp17.000 per Dolar Amerika Serikat (AS) mulai memicu alarm kewaspadaan ekonomi nasional.
Kombinasi pelemahan kurs dan lonjakan harga minyak dunia di atas 100 Dolar AS per barel diprediksi akan menghantam daya beli masyarakat serta stabilitas dunia usaha.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyatakan bahwa situasi ini berpotensi memicu krisis biaya hidup (cost of living crisis) akibat kenaikan harga barang di dalam negeri.
“Dampak ke masyarakat karena naiknya harga minyak dan pelemahan kurs Rupiah bisa buat biaya hidup naik, barang makin mahal karena cost of living crisis,” kata Bhima kepada media, Senin (9/3/2026).
Sektor Energi dan Risiko PHK
Bhima menilai sektor energi akan menjadi lini paling awal yang terdampak.
Baca Juga: Bangun Kemandirian Finansial Pelajar, Bank Kalbar Gelar Literasi Keuangan di SMAN 1 Bengkayang
Tingginya porsi impor pada komoditas BBM dan LPG membuat harga kedua produk tersebut sangat sensitif terhadap fluktuasi Rupiah dan harga minyak mentah global.
Kondisi ini tidak hanya menekan konsumsi rumah tangga, tetapi juga meningkatkan beban operasional perusahaan secara signifikan. Bhima memperingatkan adanya efek berantai yang berujung pada pengurangan tenaga kerja.
“PHK massal karena perusahaan naik biaya produksinya juga jadi konsekuensi berantai dari pelemahan kurs,” lanjutnya.
Tekanan Geopolitik dan Fiskal
Ketegangan antara Iran dan AS di Timur Tengah turut memperkeruh suasana dengan menambah ketidakpastian pada pasokan energi global. Bhima menyebut risiko perang ini sebagai pemicu utama tekanan inflasi domestik.
