Teknologi Benih untuk Sawah Tadah Hujan
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa inovasi teknologi varietas unggul telah disiapkan untuk menghadapi kondisi minim air.
Varietas-varietas tersebut memiliki keunggulan pada daya tahan terhadap cekaman lingkungan serta umur panen yang relatif singkat.
“Varietas padi tahan cekaman kekeringan seperti Inpari 38 hingga Inpari 46, serta varietas padi gogo kelompok Inpago dirancang agar tetap mampu berproduksi pada kondisi ketersediaan air terbatas. Selain itu, terdapat pula varietas genjah seperti Padjadjaran dan Cakrabuana yang dapat dipanen lebih cepat sehingga membantu tanaman menghindari periode kekeringan,” jelas Fadjry.
Ia menekankan bahwa strategi ini sangat krusial, terutama bagi petani yang mengelola sawah tadah hujan.
BRMP berkomitmen untuk terus memasifkan penggunaan varietas ini di tingkat akar rumput guna memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika iklim yang sulit diprediksi.
“Kami mendorong pemanfaatan varietas unggul tahan kekeringan ini secara lebih luas, khususnya di wilayah rawan kekeringan atau sawah tadah hujan, sehingga produksi padi nasional tetap terjaga dan ketahanan pangan dapat terus diperkuat,” tegasnya.
