FAKTANASIONAL.NET – Musim kemarau yang kian tidak menentu menuntut sektor pertanian untuk lebih adaptif.
Kementerian Pertanian (Kementan) kini tengah menggencarkan penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) atau pengairan berselang sebagai strategi kunci menjaga produktivitas padi di tengah keterbatasan sumber daya air.
Teknologi ini terbukti mampu menekan penggunaan air irigasi secara signifikan sekaligus menjadi bagian dari mitigasi perubahan iklim melalui penurunan emisi gas rumah kaca di lahan sawah.
Faktor Krusial Keberlanjutan Produksi
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa efisiensi air adalah penentu utama keberhasilan petani dalam menghadapi risiko kekeringan.
“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” ujar Mentan Amran.
Inovasi Adaptif Sejak 2013
Kepala BRMP, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa AWD merupakan solusi nyata bagi petani agar tidak lagi bergantung pada penggenangan sawah secara terus-menerus.
Teknologi yang diadaptasi dari International Rice Research Institute (IRRI) ini telah diuji coba oleh Kementan selama enam musim tanam di Indonesia.
“Teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) merupakan solusi adaptif dalam menghadapi keterbatasan air. Dengan pengaturan air yang terukur, petani dapat menjaga kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan terus-menerus, sehingga lebih siap menghadapi risiko kekeringan,” ungkap Fadjry dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/3/2026).
Fadjry menambahkan, hasil pengujian menunjukkan efisiensi yang luar biasa bagi penghematan air irigasi.
