Senjata ini dengan sombong diklaim sanggup menghancurkan target dalam jangkauan area hingga seluas 7 hektar.
Penggunaan amunisi kluster sangat memicu kontroversi karena menyebarkan ratusan submunisi ke tanah, meninggalkan bom waktu mematikan bagi warga sipil.
Selain bom kluster yang meresahkan, rezim Pyongyang ternyata juga melakukan uji keandalan terhadap sistem senjata elektromagnetik serta alat penyebar bom tiruan berbasis serat karbon.
Kedua teknologi perusak tersebut dideskripsikan secara bangga oleh KCNA sebagai aset khusus berkarakter strategis tinggi.
Manuver peluncuran yang membelah langit menuju Laut Timur sejauh 700 kilometer ini juga sengaja melibatkan material berbiaya murah demi menekan batas maksimal kapasitas mesin.
Menariknya, pemimpin besar Kim Jong Un dilaporkan tidak menampakkan diri di area uji coba, dan media resmi Korea Utara sama sekali belum mempublikasikan bukti dokumentasi foto dari peluncuran tersebut.[dit]










