-
Personel: Sekitar 15.000 prajurit militer dari berbagai matra.
-
Armada Laut: Kapal perang jenis destroyer (perusak) berpeluru kendali.
-
Kekuatan Udara: Lebih dari 100 pesawat tempur yang berbasis di pangkalan darat maupun kapal induk.
-
Teknologi: Penggunaan sistem tanpa awak (drone) secara masif untuk pengawasan lintas domain.
Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menekankan pentingnya kehadiran militer AS dalam menjaga keseimbangan kawasan.
“Dukungan kami untuk misi defensif ini sangat penting bagi keamanan regional dan ekonomi global,” tegas Laksamana Brad Cooper dalam pernyataannya.
Diplomasi “Maritime Freedom Construct”
Selain mengandalkan kekuatan senjata, Washington juga meluncurkan inisiatif diplomatik bertajuk “Maritime Freedom Construct”.
Melalui kolaborasi antara Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan, AS mengajak negara-negara mitra untuk meningkatkan koordinasi dan pertukaran informasi intelijen maritim.
Strategi ganda ini—menggabungkan kekuatan militer ( hard power ) dan aliansi diplomatik ( soft power )—diyakini menjadi kunci untuk meredam ketegangan sekaligus memastikan arus perdagangan global tidak terhambat oleh gangguan keamanan di Selat Hormuz.
Langkah tegas ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pasar energi dunia, mengingat gangguan sekecil apa pun di selat tersebut diprediksi dapat memicu fluktuasi harga minyak yang berdampak luas pada ekonomi global.
