Demi dapur tetap mengepul, nelayan Tegal nekat beralih ke “solar cong”—minyak olahan warga lokal—meski sadar betul cairan oplosan tersebut bisa menghancurkan mesin kapal perlahan-lahan.
Tak hanya urusan perut dan bahan bakar, Tambari juga menyoroti rumitnya birokrasi perizinan serta ketatnya pembatasan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). Rentetan aturan ini semakin mematikan langkah nelayan untuk melaut.
Kini, harapan terakhir nelayan Tegal tertuju langsung pada Istana. Tambari mewakili jeritan masyarakat pesisir memohon agar Mantan Presiden Joko Widodo serta Presiden Terpilih Prabowo Subianto turun tangan menyelamatkan nasib mereka.
Ia mengingatkan loyalitas nelayan yang memberikan suara penuh bagi Prabowo-Gibran dan Ahmad Luthfi di pemilu lalu. Mereka menuntut pemerintah berbalik hadir membela rakyat.
Jeritan ini diamini nelayan lain yang menegaskan keengganan melaut selama harga solar stagnan di angka Rp 30.550 per liter karena kerugian sudah di depan mata.[dit]
