Pemantik pertama, Sandi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), memaparkan kerja-kerja advokasi yang telah dilakukan WALHI bersama koalisi masyarakat sipil dalam menentang PSN di Papua Selatan.
Ia menyoroti tindakan represif aparat negara yang melarang pemutaran film ini di berbagai daerah.
“Hal itu menunjukkan adanya ancaman terhadap ruang demokrasi kita, baik sekarang maupun ke depannya,” kata Sandi.
Dari sisi ekologis, Sandi menjelaskan bahwa lebih dari dua juta hektare proyek PSN di Papua berpotensi mengubah fungsi hutan secara masif.
“Bukan hanya masyarakat adatnya yang terpinggirkan—ekosistemnya pun akan hancur. Keanekaragaman hayati, flora, dan fauna yang ada di sana terancam lenyap,” urainya.
Pemantik kedua, Rika dari Partai Hijau Indonesia, merefleksikan narasi visual film yang disebutnya mampu menjadi pemantik harapan.
Ia mengaitkan adegan salib merah yang menjadi pembuka film dengan sejarah penolakan serupa di Papua Pegunungan pada dekade 1970-an.
“Ketika film ini dibuka dengan adegan Salib Merah, saya membayangkan tahun 1970 di Papua Pegunungan, di mana berdasarkan sejumlah buku dan penelitian, adegan yang sama pernah dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap perusahaan—meski sampai hari ini kita ketahui bersama bahwa Freeport masih saja beroperasi,” tuturnya.
Rika juga mengajak peserta merenungkan bagaimana masyarakat luas dapat memastikan suara saudara-saudara mereka di Papua tidak terus-menerus diabaikan, sekaligus menyinggung dimensi kolonialisme yang masih berlangsung hingga kini.
Diskusi dilanjutkan secara terbuka bersama seluruh peserta nobar dalam suasana yang dialektis dan menghormati keberagaman perspektif.
Pada sesi penutupan, Direktur Eksekutif Institut Marhaenisme 27, Deodatus Sunda Se, menegaskan bahwa kegiatan semacam ini merupakan instrumen untuk menjaring kesadaran kolektif sekaligus membangun kekuatan dalam merebut kembali kedaulatan yang dirampas oleh korporasi, oligarki, dan imperialisme.
“Mari bung rebut kembali,” serunya, menggemakan semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955. Ia kemudian menutup diskusi dengan teriakan lantang: “Papua, Bukan Tanah Kosong!”
