Megawati mengambil langkah diplomatik berani dengan hadir dan menjadi saksi dalam upacara restorasi kemerdekaan Timor Leste pada 20 Mei 2002, yang sekaligus menjadi momen pengakuan resmi kemerdekaan negara tersebut.
“Dalam pertemuan, kepada kami dijelaskan bagaimana sambutan terhadap Ibu Mega yang luar biasa, dimana rakyat antusias mengelu-elukan Ibu Mega di sepanjang jalan. Ketika semua pemimpin dunia sudah hadir, termasuk George Bush. Ibu Mega datang terakhir, dijemput Xanana sendiri dengan pelukan hangat laksana saudara,” urai Hasto.
Dalam kunjungan ini, Hasto didampingi Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Organisasi Andreas Hugo Pareira, Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan PDI Perjuangan Andi Widjajanto, serta Direktur Luar Negeri PDI Perjuangan Hanjaya Setiawan.
Mengakhiri agenda hari kedua di Dili, Hasto dan delegasi berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dili. Mereka berdialog dengan Acting Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Dili, Banga Malewa, guna memperoleh gambaran perkembangan hubungan bilateral Indonesia-Timor Leste serta berbagai persiapan terkait agenda kunjungan kenegaraan yang akan datang.
Selain itu, Hasto dan rombongan juga bertemu dengan diplomat senior Timor Leste sekaligus Duta Besar Timor Leste untuk Kamboja, Ermenegildo “Kupa” Lopes. Kupa Lopes dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Presiden Kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Dalam berbagai kesempatan, Kupa Lopes bahkan telah dianggap sebagai bagian dari keluarga besar Megawati.
Kehadiran Hasto dan delegasi PDI Perjuangan di Dili merupakan bagian dari agenda koordinasi menjelang kunjungan Megawati Soekarnoputri ke Timor Leste pada Juli mendatang.
Kunjungan tersebut dilakukan atas undangan Presiden José Ramos-Horta yang akan menganugerahkan penghargaan Grand Collar Order of Timor-Leste, penghargaan tertinggi yang diberikan Pemerintah Timor Leste kepada tokoh-tokoh yang dinilai berjasa besar bagi bangsa dan negara tersebut.
Megawati dijadwalkan menerima penghargaan tersebut sebagai bentuk penghormatan atas peran dan kontribusinya dalam membuka jalan rekonsiliasi antara Indonesia dan Timor Leste pasca-referendum. Upaya rekonsiliasi yang dibangun pada masa kepemimpinannya dinilai menjadi fondasi penting bagi hubungan persahabatan dan kerja sama yang semakin erat antara kedua negara hingga saat ini.
