Koster Laporan ke Megawati: Ekonomi Kreatif Arak Bali dan Kopi Kintamani Tembus Pasar Dunia

SANUR, FAKTANASIONAL.NET | PDI Perjuangan Provinsi Bali membuktikan bahwa ajaran Trisakti Bung Karno, khususnya berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan, bukan sekadar slogan di atas kertas.

Dalam acara Penutupan Bulan Bung Karno 2026 yang digelar di Bali Beach Convention Center, The Meru, Sanur, Minggu (28/6/2026), komoditas lokal Bali seperti Arak dan Kopi menjadi sorotan utama sebagai motor penggerak ekonomi kreatif baru.

Di hadapan Presiden Kelima RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua DPD PDI Perjuangan Bali Wayan Koster menegaskan bahwa rangkaian kegiatan yang digelar sejak Maret lalu merupakan momentum pertanggungjawaban ideologis kepada rakyat melalui aksi nyata.

“Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan implementasi konkret Trisakti Bung Karno: Berdaulat secara Politik, Berdikari dalam bidang Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan,” tegas Wayan Koster saat menyampaikan pidato laporannya.

Salah satu pencapaian konkret yang dilaporkan Koster adalah keberhasilan pengangkatan harkat produk minuman tradisional lokal melalui Lomba Miksologi Arak Bali. Langkah perlindungan regulasi yang diinisiasi sebelumnya kini telah membuahkan hasil ekonomi yang masif dan kompetitif bagi petani lokal.

“Lomba Miksologi Arak Bali bertujuan untuk mendorong kreativitas generasi muda mengembangkan Arak Bali sebagai produk unggulan ekonomi kreatif. Saat ini sudah ada 54 merek Arak Bali yang masuk pasar internasional,” ungkap Koster disambut tepuk tangan riuh ribuan kader yang memadati hall utama.

Tidak hanya Arak, komoditas unggulan perkebunan Bali juga didorong naik kelas melalui ajang Lomba Barista Kopi Bali. Koster memaparkan bahwa langkah ini merupakan bentuk proteksi dan promosi terhadap produk kopi lokal yang telah memiliki identitas geografis kuat dan diakui secara legal.

“Lomba Barista Kopi Bali menjadi wadah promosi produk kopi lokal dari Kintamani, Pupuan, dan Banyuatis yang telah mendapat sertifikat Indikasi Geografis,” tambahnya.

Sentuhan Ekonomi Kreatif dan Peran Prananda Prabowo

Secara khusus, Koster memberikan apresiasi tinggi kepada Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Ekonomi Kreatif dan Digital, M. Prananda Prabowo, yang hadir mendampingi Ibu Megawati Soekarnoputri bersama sang istri, Nancy Prananda.

Menurut Koster, Prananda merupakan sosok di balik layar yang konsisten menggembleng kader di Bali untuk merumuskan kegiatan yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budaya.

“Terima kasih kepada Bapak Prananda Prabowo yang terus mendorong lahirnya kegiatan kreatif dan inovatif. Beliau menjabat sebagai Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Digital,” kata Koster.

Sentuhan ekonomi kreatif tersebut tercermin dari total 16 perlombaan yang digelar, yang tidak hanya menyasar seni pertunjukan tradisional seperti Lomba Bapang Barong Ket dan Makendang Tunggal, tetapi juga industri sandang. Di antaranya adalah Lomba Fashion Show Bulan Bung Karno yang menampilkan busana berbahan tenun ikat Endek Bali serta Lomba Desain Kreatif Motif Endek Bali yang berhasil menjaring 81 desain karya baru dari kalangan mahasiswa dan perajin lokal.

Secara keseluruhan, festival ideologis yang bernapaskan kebudayaan ini berhasil melibatkan partisipasi aktif sebanyak 14.569 orang peserta mulai dari tingkat SD, SMP, SMA/SMK, hingga perguruan tinggi, serta menyedot perhatian sedikitnya 27.000 penonton sepanjang penyelenggaraannya.Koster berharap, capaian ini bisa menjadi cetak biru (blueprint) gerakan kebudayaan yang berkelanjutan.

“Mari kita jadikan Bulan Bung Karno bukan sebagai kegiatan tahunan semata, tetapi sebagai gerakan permanen untuk membumikan Pancasila, membela wong cilik, merawat bumi pertiwi, dan memajukan kebudayaan bangsa,” pungkasnya.

Kedaulatan Pangan dan Mustika Rasa

Bulan Bung Karno 2026 memang diwarnai oleh aktivitas dengan berbasis spirit Trisakti tersebut. Ketua DPP PDIP Eriko Sotarduga menegaskan kedaulatan pangan adalah bagian dari perjuangan bangsa, di mana perut rakyat tidak boleh terjajah oleh makanan impor.

“Kita harus bangga terhadap pangan lokal, produk UMKM, dan kekayaan kuliner Nusantara,” ujar Eriko.

Eriko menyontohkan bahwa Presiden Soekarno saja sudah pernah mengeluarkan buku Mustika Rasa yang merumuskan konsep gizi rakyat berbasis pangan lokal. Maka dari itu, kata Eriko, PDIP juga mendorong riset dan inovasi berbasis kekayaan hayati lokal, sejalan dengan prinsip berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) yang diajarkan Bung Karno.

Eriko menyatakan bahwa perjuangan membangun kedaulatan bangsa tidak hanya ditempuh melalui jalur politik, tetapi juga melalui penguatan sektor pangan, kebudayaan, dan ekonomi rakyat.

“Kedaulatan bangsa juga diukur dari kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya sendiri dan menciptakan ketahanan ekonomi berbasis potensi daerah. Mari bersama-sama menumbuhkan perekonomian lokal, dimulai dengan membeli produk UMKM,” pungkas Eriko Sotarduga.

Exit mobile version