Dirut Bulog Minta Informasi El Nino Disampaikan Hati-Hati, Khawatir Petani Takut Menanam

Perum Bulog meminta penyebaran informasi mengenai potensi fenomena El Nino dilakukan secara selektif dan berbasis data riil agar tidak memicu kekhawatiran yang mengganggu produktivitas sektor pertanian./Dok. BULOG

“Menurut kami statement El Nino ini harus betul-betul dipertimbangkan. Pernyataan tersebut harus berdasarkan fakta yang betul-betul detail,” tambahnya.

Dampak Produksi Belum Dapat Disimpulkan

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi Seluruh Indonesia (Perpadi), Sutarto Alimoeso, menjelaskan bahwa dampak El Nino terhadap produksi beras nasional saat ini belum bisa disimpulkan secara mutlak.

Hal ini dikarenakan sebagian besar daerah sentra baru memasuki masa panen kedua.

Sutarto menyebut penurunan produksi yang terjadi beberapa waktu lalu masih berada dalam siklus musiman yang wajar.

Evaluasi komprehensif mengenai dampak anomali cuaca ini terhadap ketersediaan pasokan baru bisa dilihat dalam beberapa pekan mendatang seiring berjalannya panen di bulan Juli.

“Belum terlihat, karena sekarang ini baru mulai panen kedua. Nanti kita lihat sekitar bulan Agustus apakah produksinya turun atau tidak,” jelas Sutarto.

Ia menambahkan, indikasi gangguan ketersediaan pangan akibat El Nino belum terlihat selama pasokan gabah dan beras dari daerah produsen masih terus mengalir masuk ke pasar.

Peringatan BMKG Terkait Potensi Gagal Panen

Di sisi lain, perdebatan ini mengemuka di tengah peringatan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai penguatan fenomena El Nino.

BMKG sebelumnya merilis data bahwa El Nino telah memasuki kategori kuat dengan peluang akurasi mencapai 98 persen, serta diproyeksikan bertahan selama 9 hingga 12 bulan.

Kondisi tersebut diperkirakan bakal memicu penurunan curah hujan yang signifikan, terutama pada periode Juli hingga Oktober 2026.

Wilayah-wilayah yang diproyeksikan terdampak meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.

BMKG mengimbau pemerintah daerah serta para pelaku sektor pertanian untuk segera melakukan langkah antisipasi guna meminimalkan risiko gangguan fase tumbuh tanaman, penurunan produktivitas, hingga ancaman gagal panen akibat keterbatasan pasokan air di musim kemarau.

Baca Juga: Anak Buah Mendagri Tito Sentil TPID, Satgas Pangan dan Bulog, Ini Penyebabnya

Exit mobile version