Di balik citranya sebagai penegak hukum, Geum-son ternyata memiliki ambisi menguasai seluruh jaringan kriminal keluarganya.
Dengan memanfaatkan kewenangannya sebagai jaksa, ia diduga mengendalikan proses penyelidikan, menyembunyikan berbagai kejahatan, sekaligus memicu konflik antara dua organisasi mafia terbesar di Seoul agar saling menghancurkan.
Rencana tersebut dijalankan bersama Cha Yeong-do, polisi korup yang bertahun-tahun menjadi penghubung antara aparat dan dunia kriminal.
Tokoh ini berperan menghilangkan barang bukti, mengatur pembunuhan, hingga mengoordinasikan para pembunuh bayaran demi menjaga kepentingan konspirasi.
Konflik kemudian berkembang menjadi perang besar yang menewaskan hampir seluruh tokoh penting di kedua organisasi.
Para bos mafia, tangan kanan, hingga para pengkhianat satu per satu tumbang dalam aksi balas dendam Gi-jun.
Pertarungan terakhir mempertemukan Gi-jun dengan Lee Geum-son setelah rekaman kejahatan sang jaksa terbongkar dan menghancurkan kariernya.
Dalam duel berdarah itu, Geum-son akhirnya tewas di tangan Gi-jun sebagai penutup dendam atas kematian adiknya.
Namun kemenangan tersebut harus dibayar mahal. Gi-jun mengalami banyak luka akibat tembakan dan tikaman sepanjang misinya.
Setelah memastikan seluruh pihak yang bertanggung jawab menerima balasan, ia kembali ke tempat tinggal sederhananya. Di sanalah ia mengingat percakapan terakhir bersama sang adik sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Mengutip kisah yang diadaptasi Netflix, Mercy for None tidak hanya menyajikan aksi laga penuh kekerasan, tetapi juga mengangkat tema tentang korupsi kekuasaan, pengkhianatan, dan mahalnya harga sebuah balas dendam.
Di balik setiap adegan penuh darah, serial ini memperlihatkan bagaimana ambisi dapat menghancurkan mafia, aparat hukum, bahkan orang-orang yang berusaha mencari keadilan.[dit]
