Riset Global Terbaru Buktikan Dukungan Kesehatan Karyawan Bisa Dorong “Produktivitas Premium”

Pekerja Indonesia tercatat memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi di tempat kerja, namun risiko burnout juga terus meningkat. Riset global terbaru menunjukkan bahwa dukungan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan yang terstruktur penting bagi karyawan sekaligus bisnis.

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Riset global terbaru yang digagas oleh British Standards Institution (BSI) menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia berpeluang meningkatkan produktivitas secara signifikan, dengan membangun budaya kerja yang membuat karyawan merasa aman dan nyaman untuk membicarakan kesehatan serta kesejahteraan mereka.

Saat ini, tenaga kerja Indonesia berada dalam kondisi paradoks “bahagia tetapi burnout”. Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK menunjukkan kontradiksi tersebut: Indonesia menempati peringkat tertinggi di Asia-Pasifik (APAC) dalam hal kebahagiaan di tempat kerja, yaitu sebesar 82%, namun 43% pekerja mengaku mengalami burnout.

Kondisi ini sejalan dengan temuan yang lebih luas. Workplace Wellbeing Score Indonesia 2025 mencatat skor rata-rata kesejahteraan mental Indonesia sebesar 50,98%, masih jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 58,62%.

Isu ini menjadi semakin penting karena kesadaran terhadap kesehatan mental di Indonesia terus meningkat. Namun, kesadaran tersebut belum sepenuhnya diwujudkan dalam kebijakan resmi di tempat kerja. Korn Ferry, sebuah perusahaan konsultan industri, menyebut bahwa 45% perusahaan di Indonesia belum memiliki kebijakan kesehatan mental yang terstruktur.

Pemodelan ekonomi yang dilakukan Centre for Economics and Business Research (CEBR) di Inggris Raya, Amerika Serikat, dan Jerman menunjukkan bahwa organisasi dapat memperoleh manfaat nyata berupa peningkatan produktivitas dan retensi karyawan ketika karyawan merasa didukung untuk membicarakan tantangan kesehatan dan kesejahteraan.

Sebaliknya, analisis CEBR menemukan tiga dampak utama ketika karyawan tidak memiliki kepercayaan yang cukup untuk menyampaikan masalah kesehatan dan kesejahteraan di tempat kerja:

1. Absenteisme: Karyawan dengan tingkat kepercayaan rendah cenderung memiliki jumlah hari tidak masuk kerja yang lebih banyak dalam setahun. Mereka mungkin lebih jarang mengambil cuti, tetapi ketika cuti, durasinya lebih panjang sehingga lebih sulit dikelola perusahaan.

2. Presenteeism: Karyawan dengan kepercayaan rendah juga lebih sering mengalami presenteeism, atau tetap bekerja meski sedang tidak sehat. Alih-alih meminta penyesuaian kerja, mereka tetap memaksakan diri bekerja, sehingga produktivitas secara keseluruhan menurun. Kondisi ini terutama terlihat pada masalah psikologis atau kesehatan mental.

3. Retensi Karyawan yang Rendah: Karyawan yang tidak merasa percaya diri untuk menyampaikan masalahnya lebih berisiko meninggalkan pekerjaan atau mengambil cuti panjang yang tidak terencana.

Di Indonesia, temuan ini sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), yang diatur dalam Keputusan Menteri Ketenagakerjaan No. 4/2026.

Dalam Bulan K3 Nasional yang berlangsung pada 12 Januari–12 Februari 2026 dengan tema “Membangun Ekosistem K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif”, Indonesia secara resmi mulai memasukkan risiko psikososial ke dalam kerangka K3 nasional.

Langkah ini menjadi perubahan penting. Fokus K3 tidak lagi hanya terbatas pada risiko fisik di tempat kerja, tetapi juga mulai mencakup kesehatan mental dan kesejahteraan karyawan.

Kate Field, Global Head of Human and Social Sustainability BSI, mengatakan, meskipun riset ini berfokus pada tiga negara, temuan kami dapat diterapkan secara global. Kesejahteraan di tempat kerja dimulai dari budaya saling percaya.

Kate Field menjelaskan, ketika karyawan menghadapi tantangan kesehatan, perusahaan tetap dapat mengambil peran. Ada langkah-langkah sederhana namun berarti yang dapat dilakukan untuk mendukung karyawan, sekaligus menjaga kinerja dan ketahanan organisasi.

Exit mobile version