2. Menjadi People Pleaser yang Kronis
Anda secara otomatis memantau kebutuhan orang sekitar dan melakukan apa saja demi membuat mereka senang. Anda cenderung memendam pendapat pribadi atau menekan kebutuhan sendiri hanya agar orang lain tidak marah.
3. Sulit Mengekspresikan dan Mempercayai Emosi Sendiri
Psikolog klinis Noelle Santorelli memaparkan bahwa anak belajar menekan emosinya sendiri untuk menghindari benturan dengan orang tua. Saat dewasa, ketika merasakan emosi wajar seperti kecewa atau marah, Anda justru mempertanyakan keabsahan perasaan tersebut dan merasa bersalah.
4. Merasa Bertanggung Jawab atas Perasaan Orang Lain
Adanya dorongan kuat dari dalam diri yang membuat Anda merasa bahwa suasana hati atau emosi negatif orang di sekitar Anda adalah kesalahan atau tanggung jawab Anda untuk memperbaikinya.
5. Merasa Tidak Nyaman atau Canggung di Dekat Orang Tua
Muncul ketegangan emosional atau rasa ketidaknyamanan tersendiri setiap kali harus menghabiskan waktu bersama orang tua, terutama karena ingatan emosional atas sensitivitas mereka di masa lalu.
Putus Rantai Trauma untuk Generasi Mendatang
Pola pengasuhan yang baik dari orang tua memang patut diteruskan.
Namun, jika Anda menemukan pola eggshell parenting dalam riwayat pengasuhan Anda, kesadaran diri (self-awareness) adalah langkah awal terpenting untuk menghentikan rantai trauma tersebut agar tidak terulang pada anak-anak Anda.
Memulihkan diri melalui bantuan profesional seperti psikolog atau konselor, belajar mengenali batasan emosional (emotional boundaries), serta melatih regulasi emosi yang sehat dapat membantu membangun lingkungan rumah yang aman, hangat, dan stabil bagi tumbuh kembang buah hati.
Baca Juga: Titik Balik Kebahagiaan: Selebgram Amanda Zahra Menikah Lagi
