“Industri penerbangan harus dikelola secara detail setiap hari, bahkan setiap menit. Ketika pesawat lepas landas, kita sudah bisa menghitung apakah penerbangan tersebut menghasilkan keuntungan atau justru kerugian. Karena itu, setiap rute dan konektivitas harus dianalisis dengan cermat,” jelasnya.
Transformasi Layanan Menyeluruh
Selain menyatukan struktur kepemilikan dan entitas bisnis, Danantara dan BP BUMN juga menyiapkan peta jalan (roadmap) transformasi layanan menyeluruh bagi Garuda Group.
Pembenahan ini dirancang untuk menyempurnakan pengalaman penumpang pada setiap titik integrasi (customer journey), mulai dari pre-flight, in-flight, hingga post-flight.
Program transformasi tersebut mencakup:
-
Integrasi sistem pemesanan dan penjualan tiket secara terpadu.
-
Peningkatan standar fasilitas lounge dan kenyamanan kabin pesawat.
-
Peningkatan kualitas layanan awak kabin (flight attendant) serta sajian katering udara.
-
Sinergi dan penguatan program loyalitas pelanggan (frequent flyer).
-
Peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) secara berkelanjutan.
“Melalui konsolidasi ini, Garuda Indonesia diharapkan mampu menghadirkan layanan yang lebih baik bagi penumpang sekaligus memperkuat posisinya sebagai maskapai nasional yang mampu bersaing di pasar domestik maupun regional,” tandas Dony.
Baca Juga: Pemerintah Kaji Peningkatan Porsi Distribusi Minyakita Melalui BUMN Pangan hingga di Atas 50 Persen
