PERUSAHAAN modern gemar berbicara tentang people first. Mereka memasang slogan besar di dinding kantor: integrity, respect, teamwork, excellence.
Presentasi rekrutmen dipenuhi foto karyawan yang tersenyum, ruang kerja yang estetik, dan janji tentang “lingkungan kerja yang suportif.”
Namun, sering kali semua itu berhenti sebagai dekorasi.
Sebab budaya perusahaan bukan diukur dari kalimat yang dicetak dengan huruf kapital, melainkan dari bagaimana manusia diperlakukan ketika target belum tercapai.
Di banyak tempat, “company culture” telah berubah menjadi departemen pemasaran. Tugasnya bukan membangun budaya, melainkan membangun citra. Selama media sosial perusahaan tampak ceria, tak ada yang peduli jika ruang rapat dipenuhi ketakutan.
Ada budaya yang lebih sibuk mengukur jam masuk daripada mengukur kualitas kepemimpinan. Ada perusahaan yang menganggap keterlambatan lima menit sebagai pelanggaran serius, tetapi menganggap rapat hingga pukul sembilan malam sebagai bentuk dedikasi.
Lucunya, jam kerja dianggap sakral ketika karyawan terlambat. Namun mendadak menjadi sangat fleksibel ketika atasan membutuhkan tenaga tambahan.
Ironi semacam ini terus dipelihara.
Lembur disebut loyalitas.
Beban kerja disebut tantangan.
Kekurangan pegawai disebut kesempatan berkembang.
Stres disebut pembentukan karakter.
Dan ketika seseorang akhirnya menyerah, perusahaan dengan enteng berkata, “Dia tidak cocok dengan budaya kami.”
Padahal mungkin yang tidak cocok bukan manusianya.
Melainkan budayanya yang sudah lama sakit.
Kalimat yang paling sering disalahgunakan dalam dunia kerja mungkin adalah, “Kita ini keluarga.”
Kalimat itu terdengar hangat, sampai suatu hari seorang karyawan mengajukan cuti karena orang tuanya sakit.
Barulah ia menyadari bahwa “keluarga” ternyata hanya berlaku ketika perusahaan membutuhkan tenaga ekstra.
Saat perusahaan membutuhkan lembur, semua adalah keluarga.
Saat perusahaan membutuhkan pengorbanan, semua diminta memiliki rasa memiliki.
Namun ketika giliran karyawan membutuhkan pengertian, hubungan itu mendadak berubah menjadi kontrak kerja.
Ternyata “keluarga” hanya slogan. Yang benar adalah hubungan transaksional yang dibungkus kata-kata emosional.
Yang lebih berbahaya adalah budaya yang menghukum kompetensi.
Semakin rajin seseorang bekerja, semakin banyak pekerjaan yang diberikan kepadanya.
Semakin cepat menyelesaikan tugas, semakin dianggap mampu memikul beban orang lain.
Semakin jarang mengeluh, semakin dianggap tidak memiliki batas.
Akibatnya, orang-orang terbaik justru menjadi korban keberhasilannya sendiri.
Mereka tidak dipromosikan.
Mereka hanya ditambah pekerjaannya.
Sebaliknya, mereka yang pandai membangun citra sering kali melesat lebih cepat daripada mereka yang benar-benar bekerja.
Di sinilah politik kantor mulai mengalahkan profesionalisme.
Kontribusi kalah oleh kedekatan.
Prestasi kalah oleh pencitraan.
Integritas kalah oleh kemampuan menyenangkan atasan.
Lalu perusahaan bertanya-tanya mengapa talenta terbaik memilih pergi.
Jawabannya sederhana.
Orang hebat tidak takut bekerja keras.
Mereka hanya lelah bekerja di tempat yang menganggap kerja keras sebagai sesuatu yang gratis.
Ada perusahaan yang bangga memiliki tingkat turnover rendah.
Namun mereka lupa menghitung berapa banyak karyawan yang tetap tinggal hanya karena cicilan rumah, biaya sekolah anak, atau sulitnya mencari pekerjaan baru.
Bertahan tidak selalu berarti bahagia.











