Ia mengenang bagaimana Bung Karno mempelopori Konferensi Dokter Anak Asia-Afrika pasca Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung. Lebih dari itu, Bung Karno juga merumuskan kedaulatan pangan nasional berbasis komoditas lokal melalui Buku Mustika Rasa—sebuah resep makanan legendaris yang bertujuan menjamin kecukupan gizi secara berdikari bagi manusia Indonesia.
“Kita juga sebagai suatu negara dengan sumber bahan makanan yang paling lengkap se-dunia. Demikian pula bumbu-bumbuan. Apalagi tradisi yang ada di Jawa Barat ini dengan kebutuhan sayur-sayuran, kita akan mendorong bahwa Buku Mustika Rasa sebagai kecukupan gizi bagi manusia-manusia Indonesia menjadi keseharian di dalam menyediakan makanan bagi kita semua,” terangnya.
Pemilu 2029: Kerja Riil, Bukan Bansos Instan
Saat ditanya mengenai persiapan PDI Perjuangan menyongsong Pemilu 2029 mendatang, Hasto menegaskan bahwa kerja politik yang riil bagi partainya bukanlah membagikan bantuan sosial (bansos) secara instan. PDIP justru berkomitmen mengedukasi dan mengorganisasi masyarakat di tingkat akar rumput agar berdaya secara mandiri.
“PDIP turun ke akar rumput. Ini yang dipertegas oleh PDI Perjuangan,” tandasnya.
Ia bahkan menyamakan gerakan kepemimpinan muda ini dengan sosok Bung Karno. “Bung Karno saat itu juga dikategorikan sebagai Gen Z karena usianya 26 tahun sudah mendirikan PNI di Bandung dan dari situlah partai mengorganisir rakyat,” pungkas Hasto.
