Maafkan Saya Tidak Pandai Bertopeng

Maafkan Saya Tidak Pandai Bertopeng

ADA orang-orang yang begitu pandai tersenyum, bahkan ketika hatinya sedang berantakan. Mereka mampu berkata “tidak apa-apa” ketika sebenarnya ada luka yang belum selesai.

Mereka belajar menyembunyikan kecewa, menelan marah, lalu pulang membawa percakapan yang tidak pernah selesai di dalam kepala.

Saya mungkin bukan bagian dari mereka.

Maafkan saya, saya tidak pandai bertopeng.

Saya lebih memilih mengatakan sesuatu yang pahit daripada menyimpan kepahitan itu diam-diam, kemudian membicarakannya di belakang.

Saya lebih rela membuat seseorang tersinggung oleh kejujuran saya, daripada membuatnya nyaman dengan kebohongan yang suatu hari akan berubah menjadi pengkhianatan.

Barangkali cara saya salah. Barangkali kalimat saya terlalu tajam. Barangkali kejujuran saya terkadang datang tanpa kemasan yang indah.

Tetapi percayalah, tidak semua kata yang menyakitkan lahir dari kebencian.

Ada kata-kata yang keluar karena kepedulian.

Ada teguran yang terdengar keras karena seseorang masih dianggap penting.

Dan ada kejujuran yang sengaja disampaikan di depan wajah, sebab saya tidak ingin menjadikan punggung seseorang sebagai tempat untuk membicarakannya.

Kita hidup di zaman ketika senyum kadang lebih mudah daripada kejujuran. Orang bisa memuji di depan, lalu menghakimi di belakang. Bisa berkata “saya mendukungmu”, sementara diam-diam berharap kita gagal. Bisa menggenggam tangan seseorang hari ini, lalu menjatuhkan namanya ketika ia tidak berada di ruangan yang sama.

Saya tidak ingin menjadi manusia seperti itu.

Jika ada yang tidak saya sukai, saya ingin mengatakannya dengan cara yang bisa dipertanggungjawabkan. Jika ada yang salah, saya ingin mengingatkan. Jika ada sikap yang melukai, saya ingin membicarakannya, bukan mengumpulkan cerita untuk dijadikan bahan percakapan dengan orang lain.