Kedatangan Bangsa Inggris Ke Indonesia

Kedatangan Bangsa Inggris Ke Indonesia/(infografis/@fkn)

SEJARAH kedatangan bangsa Inggris ke Indonesia sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari satu hal yang pada masa itu nilainya sangat besar: rempah-rempah.

Cengkih, pala, lada, dan berbagai hasil bumi Nusantara bukan sekadar komoditas perdagangan. Di mata bangsa-bangsa Eropa, rempah-rempah adalah sumber kekayaan, alat untuk memperkuat kerajaan, sekaligus alasan untuk membuka jalur pelayaran baru.

Karena itu, ketika membicarakan kedatangan Inggris ke Indonesia, saya melihatnya bukan sekadar sebagai cerita tentang bangsa asing yang datang membawa kapal dan berdagang.

Di balik kedatangan tersebut terdapat kepentingan ekonomi, persaingan antarnegara Eropa, serta ambisi untuk menguasai jalur perdagangan dunia.

Indonesia pada masa itu belum menjadi sebuah negara dalam pengertian modern. Nusantara terdiri atas banyak kerajaan dan wilayah kekuasaan yang memiliki kepentingan masing-masing.

Kondisi tersebut membuat wilayah Nusantara menjadi sangat menarik bagi bangsa-bangsa Eropa. Mereka melihat adanya peluang besar untuk mendapatkan kekayaan sekaligus membangun pengaruh.

Pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, Inggris mulai meningkatkan aktivitas pelayarannya ke kawasan Asia. Inggris tidak ingin hanya menjadi penonton ketika Portugis dan Belanda mulai menguasai perdagangan rempah-rempah.

Pendirian East India Company (EIC) pada 1600 menjadi salah satu langkah penting. Perusahaan ini memperoleh hak dari kerajaan Inggris untuk melakukan perdagangan di wilayah Asia. Dari sinilah ekspansi perdagangan Inggris semakin terorganisasi.

Bagi saya, hal ini memperlihatkan bagaimana perdagangan pada masa itu tidak benar-benar berdiri sendiri. Di belakang pedagang terdapat kepentingan negara. Perusahaan dagang dapat menjadi perpanjangan tangan kekuasaan. Kapal dagang bukan hanya membawa barang, tetapi juga membawa kepentingan politik dan ekonomi sebuah kerajaan.

Inggris kemudian datang ke Nusantara dan berusaha membangun hubungan dagang dengan berbagai kerajaan. Banten menjadi salah satu wilayah penting karena letaknya strategis dan merupakan pusat perdagangan lada.

Inggris berusaha mendapatkan akses langsung terhadap komoditas yang sangat menguntungkan tersebut. Mereka tidak ingin terus membeli rempah-rempah melalui perantara. Logikanya sederhana: jika bisa memperoleh rempah-rempah langsung dari sumbernya, keuntungan yang diperoleh akan jauh lebih besar.

Namun, Inggris tidak datang ke ruang kosong.

Di Nusantara sudah ada kekuatan Eropa lain, terutama Belanda melalui VOC. Persaingan antara Inggris dan Belanda kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah perdagangan Nusantara.

Ada satu hal yang menurut saya penting untuk dipahami: kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia tidak selalu dimulai dengan penaklukan secara langsung. Banyak di antaranya bermula dari perdagangan.

Mereka datang untuk membeli.

Kemudian mendirikan pos perdagangan.

Setelah itu membangun hubungan politik.

Dan pada akhirnya, ketika kepentingan ekonomi semakin besar, muncul keinginan untuk mengendalikan wilayah dan jalur perdagangan.

Inilah yang membuat sejarah kolonialisme menjadi kompleks.

Inggris berusaha membangun pengaruhnya, tetapi VOC memiliki kekuatan yang jauh lebih besar di Nusantara. Belanda menerapkan berbagai kebijakan monopoli perdagangan dan menggunakan kekuatan militer untuk mempertahankan kepentingannya.

Akibatnya, Inggris tidak mampu menjadi kekuatan dominan di Nusantara seperti halnya Belanda.

Inggris kemudian lebih memusatkan perhatian pada India dan wilayah Asia lainnya. Namun, bukan berarti kepentingan Inggris terhadap kepulauan Indonesia benar-benar hilang.

Kesempatan besar bagi Inggris datang lebih dari satu abad kemudian.

Pada 1811, Inggris berhasil mengambil alih Jawa dari pemerintahan kolonial Belanda yang saat itu berada dalam situasi politik yang sangat sulit akibat pengaruh Napoleon di Eropa.

Peristiwa tersebut menjadi babak baru.

Untuk pertama kalinya, Inggris memperoleh kesempatan menjalankan pemerintahan secara langsung di Jawa.

Nama yang paling sering dikaitkan dengan pemerintahan Inggris di Jawa adalah Thomas Stamford Raffles.

Raffles menjadi Letnan Gubernur Jawa setelah Inggris mengambil alih pemerintahan pada 1811. Masa pemerintahannya berlangsung hingga 1816.

Dalam pandangan saya, Raffles merupakan sosok yang menarik sekaligus menunjukkan wajah ganda kolonialisme.

Di satu sisi, ia memiliki perhatian terhadap ilmu pengetahuan, kebudayaan, sejarah, dan peninggalan Nusantara. Ia menaruh perhatian terhadap bahasa, masyarakat, serta berbagai peninggalan sejarah di Jawa.

Tetapi di sisi lain, Raffles tetap merupakan bagian dari pemerintahan kolonial Inggris.

Artinya, berbagai perhatian terhadap kebudayaan tidak boleh membuat kita melupakan tujuan utama sebuah pemerintahan kolonial: mempertahankan kepentingan kekuasaan dan ekonomi negara penjajah.

Salah satu kebijakan yang terkenal pada masa Raffles adalah sistem sewa tanah atau landrent.

Gagasan dasarnya adalah tanah dianggap berada di bawah kekuasaan pemerintah sehingga petani harus membayar sejumlah pajak atau sewa atas tanah yang mereka garap.

Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk mengubah sistem pengelolaan pajak dan meningkatkan penerimaan pemerintah. Namun, penerapannya tidak sesederhana konsep di atas kertas.

Masyarakat Jawa pada saat itu memiliki struktur sosial, ekonomi, dan hubungan antara penguasa dengan rakyat yang sangat kompleks. Sistem baru yang diperkenalkan pemerintah Inggris tidak selalu mudah diterapkan dalam kondisi nyata.

Di sinilah kita dapat melihat bahwa pemerintahan kolonial sering kali mencoba mengatur masyarakat berdasarkan konsep yang dianggap rasional oleh pemerintahnya sendiri, tetapi belum tentu sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat.

Kekuasaan Inggris di Indonesia ternyata tidak berlangsung lama.

Pada 1816, berdasarkan perkembangan politik di Eropa dan kesepakatan antara Inggris dan Belanda, wilayah Nusantara yang sebelumnya dikuasai Inggris dikembalikan kepada Belanda.

Dengan demikian, masa pemerintahan Inggris di Indonesia hanya berlangsung sekitar lima tahun.

Tetapi lima tahun itu tetap menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.

Kita sering kali membayangkan kolonialisme hanya sebagai satu garis lurus: Portugis, kemudian Belanda, lalu Jepang. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit.

Ada Inggris.

Ada persaingan Inggris dan Belanda.

Ada perubahan kekuasaan akibat perang di Eropa.

Ada perusahaan dagang yang memiliki kekuatan politik.

Ada kerajaan-kerajaan Nusantara yang harus menghadapi perubahan situasi.

Semua itu menunjukkan bahwa Indonesia pada masa lalu berada di tengah pusaran politik global.

Apa yang Sebenarnya Dicari Inggris?