SETELAH ritual pada subuh hari selesai, saya sudah terbiasa menulis. Entah sejak kapan kebiasaan itu tumbuh menjadi semacam hutang yang harus dibayar setiap pagi.
Kalau hari ini saya tidak menulis, entah mengapa hari esok terasa seperti akan datang membawa tagihan.
Bagi saya pagi hari bagaikan pintu, dia perlu dibuka.
Yah, begitulah.
Tetapi mohon maaf pagi ini tidak ada musik tentang Raja Koruptor atau segala macam irama yang membuat pikiran terasa seperti sedang berada di ruang sidang.
Pagi ini terputar lagu jiwang Malaysia.
Full album pula.
Agrh…
Maka lahirlah judul yang mungkin terdengar sedikit menyedihkan bagi orang yang mengenal saya: “Tidak Sanggup Merindu.”
Wk…
Jangan buru-buru menyimpulkan.
Sebab rindu adalah makhluk yang aneh. Ia tidak selalu datang karena seseorang pergi. Kadang ia datang justru karena seseorang terlalu dekat di dalam ingatan.
Rindu tidak mengenal jarak.
Ia bisa tinggal di antara dua orang yang hanya berjarak beberapa langkah. Ia juga bisa menyeberangi ribuan kilometer tanpa pernah meminta izin.
Ia tidak membutuhkan kendaraan, tiket, atau alamat. Cukup satu kenangan, lalu ia sudah sampai.
Dan yang paling menyebalkan dari rindu adalah ia tidak pernah datang ketika kita menginginkannya.
Ia datang ketika kita sedang berusaha melupakannya.
Barangkali manusia memang diciptakan dengan dua ruang – ruang untuk menyimpan sesuatu dan ruang untuk melepaskannya.
Tetapi masalahnya, kita sering keliru menggunakan keduanya.
Kita menyimpan orang yang seharusnya dilepaskan. Kita melepaskan orang yang sebenarnya ingin kita pertahankan.
Kita mengingat sesuatu yang seharusnya selesai, lalu melupakan sesuatu yang sebenarnya pernah membuat kita bahagia.
Begitulah manusia.
Termasuk saya.
Ada pagi-pagi tertentu ketika tulisan tidak lagi terasa seperti pekerjaan. Ia berubah menjadi tempat persembunyian.
Di sana saya bisa menjadi manusia yang tidak perlu berpura-pura kuat.
Sebab dunia sering kali hanya mengenal wajah seseorang, bukan perang yang berlangsung di dalam dadanya.
Orang melihat kita tertawa, lalu mengira kita bahagia.
Orang melihat kita bekerja, lalu mengira kita baik-baik saja.
Orang melihat kita diam, lalu mengira kita tidak memiliki apa-apa untuk dikatakan.
Padahal bisa jadi, di balik diam itu ada ribuan kalimat yang sedang bertengkar untuk menentukan mana yang boleh keluar dan mana yang harus tetap tinggal.
Mungkin karena itulah saya menulis.
Saya tidak selalu menulis untuk pembaca.
Kadang saya menulis untuk menyelamatkan diri sendiri.
Kata-kata menjadi semacam jendela. Melalui jendela itu saya melihat kembali bagian-bagian diri yang selama ini saya sembunyikan.
Ada kecewa. Ada marah. Ada harapan. Ada kehilangan. Ada doa yang belum menemukan jawabannya.
Dan tentu saja, ada rindu.
Rindu yang kadang ingin saya peluk, tetapi juga ingin saya usir.
Ironis, bukan?
Kita bisa sangat merindukan seseorang, tetapi pada saat yang sama tahu bahwa pertemuan dengannya mungkin bukan lagi jalan terbaik.
Maka saya memahami satu hal:
Tidak semua rindu harus ditunaikan.
Sebagian rindu cukup dikenang.
Sebagian lagi cukup ditulis.
Dan sebagian yang paling dalam mungkin harus diserahkan kepada Tuhan.
Saya pernah berpikir bahwa setiap rasa memiliki tujuan.
Jika kita mencintai, maka cinta harus memiliki tempat untuk pulang.
Jika kita menunggu, maka seseorang harus datang.
