Tidak semua kritik harus dilawan.
Kadang-kadang kritik publik justru membantu sebuah organisasi memahami bagaimana tindakannya dipersepsikan dari luar.
Namun publik juga perlu menjaga proporsi. Kehadiran seseorang di Istana tidak otomatis membuktikan bahwa orang tersebut sudah menjadi pendukung pemerintah. Corong pemerintah. Belum tentu.
Demikian pula sebuah foto bersama presiden tidak otomatis berarti media kehilangan independensi.
Di sinilah masyarakat digital perlu belajar membedakan antara fakta, persepsi, dan kesimpulan.
Faktanya adalah para host hadir di Istana dan berfoto bersama Presiden.
Persepsinya adalah sebagian audiens menganggap hal itu tidak sesuai dengan citra independen In Her View.
Kesimpulan bahwa mereka kemudian tidak independen tentu saja masih membutuhkan bukti lebih jauh.
Pembedaan semacam ini sangat penting agar kritik sosial tidak berubah menjadi penghakiman.
Pancatera juga dapat mengambil pelajaran lebih jauh. Platform digital yang memiliki komunitas loyal sebaiknya memahami bahwa hubungan mereka dengan audiens bukan sekadar hubungan antara produsen dan konsumen.
Audiens dapat merasa memiliki nilai-nilai yang sama dengan platform tersebut. Ketika platform mengambil tindakan yang dianggap bertentangan dengan nilai tersebut, kekecewaan dapat muncul.
Dalam konteks yang lebih luas, kasus Pancatera menunjukkan bahwa independensi media pada zaman digital bukan hanya soal isi pemberitaan, tetapi juga soal persepsi, hubungan, dan simbol.
Foto sederhana dapat memunculkan pertanyaan besar mengenai posisi sebuah media.
Dan itu bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Justru media yang kuat adalah media yang mampu menerima pertanyaan tersebut, menjelaskan posisinya secara terbuka, serta tetap menunjukkan independensinya melalui karya-karya berikutnya.
Dengan demikian, kritik publik tidak harus berakhir dengan permusuhan.
Kritik dapat menjadi pengingat bahwa ketika sebuah platform sudah menjadi ruang publik, tindakan pengelolanya akan selalu diamati masyarakat. (*)
