Persoalannya adalah konteks. Percakapan berlangsung di depan banyak mahasiswa dan kemudian direkam serta disebarkan melalui media sosial.
Sesuatu yang mungkin dimaksudkan sebagai candaan, spontanitas, atau gaya komunikasi akrab dapat mempunyai konsekuensi berbeda ketika diucapkan seorang gubernur kepada seorang mahasiswa yang posisinya jauh lebih rentan secara sosial.
Dosen Fakultas Komunikasi Unisba Muhammad W. Fuady mengingatkan agar publik tidak hanya menilai dari potongan video. Menurutnya, percakapan secara utuh berlangsung terbuka dan responsif, sementara persoalan muncul ketika bagian tertentu dipisahkan dari konteks keseluruhan.
Pandangan tersebut penting. Media sosial memang mempunyai kecenderungan mengubah percakapan panjang menjadi potongan 30 detik. Potongan tersebut kemudian membentuk persepsi publik.
Bisa juga ditafsirkan, Dedi sedang mengajari para mahasiswa si aitu, juga publik pemantau medsos, bahwa jika wanita menikah, pilihlah lelaki yang mampu bertanggung jawab atas ekonomi keluarga.
Pelajaran ini disampaikan kepada wanita lajang. Sekaligus juga pada lelaki lajang, bahwa ketika sudah menikah kelak cukupilah ekonomi keluargamu. Maka, persiapkan dirimu Ketika masih lajang.
Pelajarannya lainnya: empati tidak mengurangi kewibawaan pejabat. Justru empati dapat memperkuat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
Dan bagi warganet, kasus ini juga mengajarkan hal lain. Keisha sendiri meminta agar video percakapannya tidak terus dipotong dan disebarkan ulang. Karena itu, publik juga perlu menghormati hak pribadi orang yang menjadi objek viralitas.(*)
