Sementara itu, Direktur Mumtaz Creative sekaligus Halal Kulture Agung Mulyawan Paramata melihat industri halal memiliki potensi besar melalui pendekatan komunitas dan gaya hidup. Menurutnya, konsep halal kini tidak hanya relevan bagi masyarakat Muslim, tetapi juga semakin berkembang dalam pasar global.
“Secara industri, segmen Muslim dan industri halal ini merupakan salah satu segmen yang sangat besar. Semakin ke sini, hal-hal yang berkaitan dengan halal ternyata tidak hanya relevan untuk Muslim,” kata Agung.
Melalui Halal Kulture, berbagai komunitas akan dilibatkan dalam Pekan Halal Indonesia, termasuk komunitas otomotif dan muslim bikers. Selain itu, akan dihadirkan program Sunday Morning Hype serta diskusi mengenai cryptocurrency, ekonomi syariah, bisnis, dan keuangan syariah.
Dari sektor tekstil, CEO Deatextile Adwil Yusuf menyampaikan bahwa industri halal juga mencakup produk tekstil. Deatextile menghadirkan produk tekstil yang prosesnya dikembangkan mulai dari hulu hingga menjadi produk akhir.
“Produk halal tentunya bukan sesuatu yang sederhana. Produk tersebut harus memiliki sertifikasi halal. Dalam event ini, kami akan membawa produk halal yang berbeda, yaitu produk tekstil,” ujar Adwil.
Deatextile juga mengembangkan kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan, termasuk Universitas Indonesia dalam pembuatan seragam, serta universitas lainnya untuk kebutuhan jas, almamater, toga, dan produk tekstil lainnya.
Pekan Halal Indonesia & EduNation Festival 2026 menjadi wadah yang mempertemukan pelaku usaha, institusi pendidikan, komunitas, dan masyarakat untuk memperoleh informasi sekaligus membuka peluang kolaborasi.
Pekan Halal Indonesia in Conjunction with EduNation Festival 2026 akan diselenggarakan pada 28–30 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, dengan harga tiket Rp20.000.[mut]
