Pesannya sederhana, namun sarat makna: “ketika kemampuan manusia memiliki batas, doa menjadi salah satu jalan untuk memohon pertolongan Sang Pencipta.”
Shalat Istisqa sendiri dianjurkan ketika suatu wilayah mengalami kekeringan atau kemarau panjang.
Dalam pelaksanaannya, umat Islam diajak memperbanyak istighfar, bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT seraya berharap hujan yang turun nantinya membawa keberkahan.
Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Barito Utara telah mengajak masyarakat, tokoh agama serta jajaran instansi pemerintah untuk mengikuti Shalat Istisqa di halaman Pemkab Barito Utara.
Bagi Barito Utara, moment tersebut menjadi pengingat bahwa menghadapi kemarau tidak cukup hanya dengan mengandalkan langkah teknis dan kerja keras, namun juga harus di barengi ikhtiar kepada allah SWT.
Pemerintah tetap dituntut memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak kekeringan dan karhutla.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting menjaga lingkungan, menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran serta menggunakan sumber air secara bijak.
Doa pun dipanjatkan.
Semoga hujan segera turun. Bukan hanya untuk membasahi tanah yang mengering, tetapi juga memadamkan bara yang mengancam hutan dan lahan, mengisi kembali sumber-sumber air, serta mengembalikan kesejukan bagi masyarakat Barito Utara.(Van)
