Karena agama bukan stempel legitimasi politik.
Seorang pemimpin boleh religius. Politisi boleh berbicara tentang nilai Islam. Buku boleh mengulas hubungan antara agama dan kepemimpinan.
Tetapi masyarakat tetap memiliki hak untuk bertanya: apakah pembahasan itu benar-benar kajian keagamaan, biografi politik, atau bagian dari upaya membangun citra seorang pemimpin?
Pertanyaan tersebut bukan penghinaan.
Justru pertanyaan adalah vitamin bagi demokrasi.
Yang lebih penting lagi adalah transparansi mengenai proses penulisan buku.
Jika ada tokoh yang namanya tercantum tetapi menyatakan tidak pernah mengirim tulisan, maka persoalannya harus dijelaskan secara terbuka.
Tidak perlu marah.
Tidak perlu membuat konferensi pers dengan wajah seolah-olah negara sedang menghadapi meteor.
Cukup buka dokumen.
Siapa mengirim naskah?
Kapan dikirim?
Melalui siapa?
Ada persetujuan atau tidak?
Selesai.
Jurnalistik bekerja dengan cara sederhana: fakta diperiksa, klaim diuji, pihak yang dituduh diberi ruang menjelaskan, dan publik diberi kesempatan menilai.
Sebab yang berbahaya bukan kritik terhadap buku.
Yang berbahaya adalah ketika publik diminta percaya tanpa diberi kesempatan memeriksa.
Dan mungkin di sinilah gunung api memberikan pelajaran yang sangat sederhana.
Gunung tidak pernah membuat konferensi pers sebelum meletus.
Ia tidak membuat baliho.
Ia tidak membuat slogan.
Ia tidak membutuhkan buzzer.
Ketika tekanan di dalam bumi meningkat, ia menunjukkan gejalanya.
Manusia seharusnya juga begitu. Ketika ada masalah, jangan menutupinya dengan asap pencitraan.
Ketika ada pertanyaan, jangan menjawabnya dengan kemarahan. Ketika ada nama yang dipersoalkan, jangan biarkan publik menebak-nebak.
Karena pada akhirnya, gunung yang batuk masih bisa dipantau.
Yang lebih sulit adalah politik yang panas tetapi tidak pernah mengaku sedang demam.
Jadi, kalau ada yang mengatakan gunung api Indonesia “tertawa hingga batuk-batuk” melihat polemik Islam Ala Prabowo, anggap saja itu humor.
Gunung tidak punya selera politik.
Tetapi manusia punya akal untuk membaca ironi.
Dan ironi terbesar hari ini mungkin bukan gunung yang meletus.
Melainkan ketika sesuatu yang seharusnya sederhana—siapa menulis apa dan atas izin siapa—justru menjadi teka-teki yang lebih panas daripada kawah gunung api.
Gunung boleh batuk.
Politik boleh panas.
Buku boleh diperdebatkan.
Tetapi fakta jangan sampai ikut menguap.[dit]
