Merajut Harmoni Satwa dan Warga
Transformasi pengawasan digital diisi pula dengan upaya penguatan kapasitas sosial.
Sriyanto menyoroti perbedaan kondisi gajah liar di Way Kambas yang cenderung kurus dan bersikap agresif jika dibandingkan dengan gajah di Thailand yang tampak sehat dan jinak karena besarnya keterlibatan warga dalam memberikan pakan.
“Di Thailand, masyarakat ikut memberi pakan melalui yayasan dan sukarelawan. Kita ingin meniru hal positif itu. Semakin sering gajah melintas dengan aman, semakin banyak wisatawan yang datang,” harap Sriyanto.
Langkah harmonisasi ini akan diwujudkan melalui rencana kerja sama penyediaan pakan gajah yang berkontrak langsung dengan warga dan koperasi desa penyangga.
Dalam pertemuan, Komite Gabungan berkomitmen menyediakan 10 titik sumur bor dan embung di area rawan kebakaran hutan, seperti Resort Susunan Baru, yang berfungsi ganda sebagai sarana pemadaman api sekaligus tempat minum satwa saat musim kemarau.
Pada sektor ekonomi kreatif, mesin penyulingan minyak serai dibangun di Desa Braja Asri sebagai pusat percontohan produk olahan turunan.
Seluruh fasilitas ini disiapkan menjelang rencana peresmian oleh Presiden RI pada Oktober mendatang, yang dirangkaikan dengan penyelenggaraan Festival Way Kambas bertarget 3.000 pengunjung.
Pemerintah Kabupaten Lampung Timur turut mendukung dengan memperbaiki infrastruktur jalan akses dari Pasar Tridatu Rajabasa Lama, Labuhan Ratu, menuju pintu masuk kawasan taman nasional.
“Sekokoh apa pun bangunan yang kita buat, kalau gajah marah, pasti akan runtuh. Yang paling utama adalah kehadiran dan rasa menyatu kita semua. Taman Nasional Way Kambas adalah milik kita bersama,” tegas Sriyanto.
