Studi Ungkap Urine Pendaki Berpotensi Mencairkan 154 Ton Es di Gunung Everest

Studi Ungkap Urine Pendaki Berpotensi Mencairkan 154 Ton Es di Gunung Everest/Pixabay

Namun, angka tersebut memiliki keterbatasan. Perhitungan penelitian mengasumsikan seluruh panas dari urine berpindah ke es, padahal sebagian panas dapat hilang melalui berbagai proses di lapangan.

“Perkiraan ini kemungkinan merupakan batas atas, karena tidak memperhitungkan kehilangan panas melalui perkolasi ke dalam puing-puing, limpasan, transfer panas yang tidak sempurna, atau proses disipatif lainnya yang sulit diukur dalam kondisi lapangan,” tulis tim peneliti.

Para ilmuwan menilai meningkatnya jumlah pendaki dan staf pendukung memperburuk tekanan lingkungan terhadap Gletser Khumbu. Karena itu, mereka menyarankan pemindahan base camp utama ke lokasi yang lebih kering dan bebas es.

“Memindahkan perkemahan utama ke lokasi yang bebas es dapat membantu mengurangi pencairan gletser akibat aktivitas manusia sekaligus mendorong praktik pendakian gunung yang lebih berkelanjutan,” tulis mereka.

Relokasi tersebut juga dinilai berpotensi mengurangi tekanan pada Air Terjun Es Khumbu, meningkatkan keselamatan ekspedisi, dan mendukung ketahanan ekosistem pegunungan.

Selain urine, Everest menghadapi persoalan sampah yang serius. Menurut National Geographic, kawasan tersebut dilaporkan dipenuhi lebih dari 50 ton sampah. Sejak 2024, pendaki juga diwajibkan membawa kembali kotoran mereka menggunakan kantong khusus, meskipun pelanggaran masih terjadi.

Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dan aktivitas pendakian menjadi bagian penting dalam upaya melindungi lingkungan Everest.[dit]

Exit mobile version