Polkam  

Peta Politik 2029: Prabowo Didukung, Gibran Justru Abu-abu!

Peta Politik 2029: Prabowo Didukung, Gibran Justru Abu-abu!/facebook

FAKTANASIONAL.NET – Di tengah komitmen sejumlah partai politik yang mulai menyatakan kesiapannya untuk kembali mengusung Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029, dinamika berbeda justru terlihat terkait posisi Gibran Rakabuming Raka. Nama wakil presiden tersebut dinilai belum masuk dalam radar partai politik untuk kembali dicalonkan pada kontestasi mendatang.

Pengamat politik Adi Prayitno mengungkapkan bahwa dalam kancah pemilihan presiden, dukungan dan tiket dari partai politik merupakan syarat mutlak yang tidak bisa diabaikan oleh siapa pun yang ingin maju sebagai kandidat, baik sebagai calon presiden maupun wakil presiden.

“Kalau bicara kandidasi di Pilpres, suka tidak suka, wajib hukumnya siapa pun harus dekat dan mendapatkan tiket dari partai,” ujar Adi saat memberikan pandangannya pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Menurut Adi, status Gibran sebagai orang nomor dua di pemerintahan saat ini tidak otomatis menjamin dirinya akan kembali mengantongi dukungan partai untuk Pilpres 2029. Terlebih lagi, meskipun sebagian partai telah terang-terangan menyatakan dukungan lanjutan kepada Prabowo, arah keberpihakan yang sama belum diberikan kepada Gibran.

Lebih lanjut, Adi menyoroti bahwa apabila regulasi pencalonan presiden ke depan tetap mensyaratkan dukungan minimal dari sejumlah fraksi di parlemen, maka peran para elite partai politik akan semakin dominan dan menjadi penentu utama (veto player).

Dukungan dari partai politik di parlemen tidak hanya berfungsi sebagai kendaraan politik untuk memperoleh tiket pendaftaran, tetapi juga menjadi fondasi kuat guna menopang kekuasaan serta membentengi pemimpin dari berbagai terpaan kritik.

“Maka hanya elite partai yang kemudian menjadi veto player dan menjadi faktor determinan yang bisa ikut bertanding di 2029,” tambahnya.

Dalam pandangan Adi, pentingnya kekuatan dukungan parpol terlihat jelas tatkala Gibran dihadapkan pada berbagai gelombang kritik maupun isu kontroversial, termasuk polemik keabsahan dokumen pendidikan yang sempat bergulir di Mahkamah Konstitusi (MK).

Ia menyayangkan bahwa di tengah derasnya sorotan dan kritik publik, hampir tidak terlihat adanya elite partai besar yang secara terbuka pasang badan memberikan pembelaan politik.

“Hari ini ada bully-an, nyaris tidak ada yang membela. Seakan-akan Gibran berjalan di tempat yang sunyi dan tidak ada yang pasang badan memberikan dukungan,” pungkasnya.(sak)

Exit mobile version