JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 mencapai 4,87% yoy, lebih rendah dari konsensus pasar sebesar 4,94%.
Meski didorong aktivitas Ramadan dan Idul Fitri, data BPS pada 5 Mei 2025 menunjukkan ekonomi kuartal I masih terkontraksi 0,98% qtq.
Hal ini menegaskan bahwa sektor konsumsi—meski masih menjadi penopang utama—menghadapi tantangan serius terkait daya beli masyarakat yang lemah dan kontraksi pada industri manufaktur.
Pada April 2025, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia mencatat 46,7, menandakan fase kontraksi terendah sejak Agustus 2021.
Penurunan aktivitas ini menyebabkan gangguan pasokan bahan baku dan produk setengah jadi ke sektor ritel, memaksa produsen konsumer untuk menyesuaikan kapasitas produksi.
Akibatnya, waktu pengiriman barang menjadi lebih lama dan persediaan di toko menipis, menekan volume penjualan.
Meskipun momen Ramadan dan Lebaran meningkatkan konsumsi, daya beli masyarakat secara umum masih loyo akibat inflasi yang merambat dan tekanan harga bahan pokok.
