Secara teknikal, level Rp 16.450-16.500 per USD menjadi zona psikologis kritis. Jika ditembus, tekanan jual rupiah dapat berlanjut hingga level berikutnya di kisaran Rp 16.600. Namun, potensi intervensi Bank Indonesia—baik melalui pasar valas maupun instrumen stabilisasi—juga patut diwaspadai.
Bagi pelaku usaha dan importir, pelemahan ini menambah beban biaya impor. Di sisi lain, eksportir bisa mendapatkan keuntungan lebih kompetitif. Ke depan, stabilisasi rupiah sangat bergantung pada kesinambungan kebijakan fiskal dan moneter, serta perkembangan ekonomi global.[dit]











