Perlambatan ini sejalan dengan data pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pertumbuhan KPR per Juni 2025 tercatat hanya 7,8 persen (yoy), anjlok signifikan dari 14 persen pada Juni 2024. Hal ini mengindikasikan daya beli masyarakat yang memang sedang melemah.
Harga Rumah Tak Terjangkau
Masalah utama lainnya adalah kesenjangan besar antara harga rumah dan penghasilan masyarakat. Data Bestbrokers 2024 bahkan menempatkan Indonesia di posisi ke-4 negara dengan harga rumah paling tidak terjangkau di dunia. Rata-rata harga rumah mencapai Rp18,3 juta per meter persegi, sementara rata-rata pendapatan tahunan hanya Rp37,8 juta.
Selain itu, Survei Bank Indonesia Kuartal I 2025 mencatat hambatan lain seperti kenaikan harga bahan bangunan, suku bunga KPR yang tinggi, serta beratnya uang muka dan beban pajak. Akibatnya, meski backlog rumah mencapai 15 juta unit, realisasi KPR masih sangat rendah.[dit]











