Ia menyebut sejumlah aspek yang perlu diperhatikan, mulai dari perilaku saat berkendara yang berdampak besar pada keselamatan dan efisiensi kerja.
Karena itu, ia mengapresiasi keberadaan RBPI yang secara konsisten berupaya meningkatkan kualitas perilaku anggotanya melalui berbagai program pembinaan dan pelatihan.
“Hal ini tentu menjadi langkah positif yang mendukung keselamatan di jalan serta membangun citra profesional pengemudi,” tegas AKBP Widodo.
Lebih jauh ia mengatakan, peningkatan kompetensi pengemudi bukan sekadar penguasaan teknis mengemudi, juga mencakup aspek sikap, etika, serta kemampuan berkomunikasi yang efektif.
“Kompetensi yang holistik akan menghasilkan pengemudi yang mampu menghadapi dinamika pekerjaan dengan lebih bijak dan bertanggung jawab,” tandas AKBP Widodo.
Selanjutnya, AKBP Widodo berharap RBPI terus memfasilitasi dan mendorong anggotanya untuk mengikuti berbagai pelatihan, sertifikasi, dan program pengembangan sumber daya manusia lainnya.
“Dengan begitu, RBPI tidak hanya menjadi organisasi yang solid secara internal, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi keselamatan dan perkembangan industri transportasi di Indonesia,” tandas AKBP Widodo.
Staff Ahli Gubernur Bidang Pendidikan, Alfi Syahriza yang mendapat giliran naik mimbar, mengatakan para pengemudi yang tergabung dalam RBPI selalu menjadi garda terdepan dalam mendukung perekonomian nasional.
“Mereka bukan hanya menjadi bagian penting dalam mata rantai pasok, juga berkontribusi secara nyata bagi bangsa dan negara. Oleh karena itu, keluarga besar RBPI patut mendapatkan apresiasi yang setinggi-tingginya,” kata Alfi.
Alfi berpesan agar selalu menjaga soliditas dan kekompakan. Dengan semangat persatuan dan kebersamaan, perjuangan para pengemudi akan terus terjaga dan semakin kuat.
“Teruslah meningkatkan potensi diri, kemampuan berkomunikasi, dan etika, serta menjadikan RBPI sebagai wadah pemberdayaan dan pembelajaran bersama,” ungkap Alfi.
Adapun perwakilan dari BPJS Ketenagakerjaan, Alfiano menyampaikan data tentang jumlah tenaga kerja di Sumatera Utara mencapai 5 juta orang, namun masih terdapat sekitar 3 juta orang yang belum terlindungi dan belum mendapatkan kolaborasi perlindungan yang optimal.
“Berdasarkan data yang ada, di Sumatera Utara telah terjadi 54.300 kasus kecelakaan kerja dan 11.415 kasus jaminan kematian,” ungkapnya.
Alfiano mengungkapkan suasana kebatinannya bahwa keberadaannya di acara Harlah ke-4 RBPI adalah karena kedua orang tua yang telah melahirkan dan mendidiknya sejak kecil. Terlebih karena sang ayah yang tidak lain adalah pengemudi.
“Ayah saya juga adalah seorang pengemudi. Oleh karena itu, saya sangat memahami perjuangan Bapak dan Ibu sekalian sebagai pengemudi, yang merupakan urat nadi perekonomian negara,” tandas Alfiano.











