Pesantren Didorong Mandiri Ekonomi dan Go Green, Ini Penegasan Kemenag DIY

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum/Dok. Ist.

Selain sebagai lembaga pendidikan, pesantren juga memiliki fungsi dakwah yang membumi dan kontekstual. Ahmad Bahiej menekankan bahwa dakwah pesantren tidak menjadikan pesantren sebagai menara gading yang terpisah dari masyarakat, melainkan hadir langsung menjawab persoalan sosial dan kemasyarakatan.

“Dakwah itu tidak hanya soal ibadah dalam arti sempit. Dakwah juga menyentuh persoalan sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan. Pesantren harus hadir di tengah masyarakat dan memberikan manfaat nyata,” katanya.

Menurutnya, dakwah pesantren dapat diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat, pendampingan sosial, hingga edukasi kebersihan dan kesehatan lingkungan. Prinsip kebersihan yang merupakan bagian dari iman menjadi pintu masuk pesantren dalam membangun kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.

Pesantren Go Green dan Konsep Eko-Teologi

Menjawab isu Pesantren Go Green, Ahmad Bahiej menyatakan bahwa gerakan tersebut sangat relevan dengan program prioritas Kementerian Agama, yaitu eko-teologi. Program ini mendorong seluruh satuan kerja dan lembaga binaan Kemenag, termasuk pesantren dan organisasi kemasyarakatan keagamaan, untuk aktif menjaga kelestarian lingkungan hidup.

“Go Green tidak hanya soal menanam pohon. Ini juga mencakup pengelolaan sampah, tata kelola lingkungan pesantren, serta perubahan budaya masyarakat terhadap lingkungan hidup,” jelasnya.

Ia menilai pesantren memiliki potensi besar menjadi model praktik eko-teologi karena umumnya memiliki lahan yang luas, komunitas santri yang solid, serta nilai-nilai agama yang kuat sebagai dasar perubahan perilaku ramah lingkungan. Dengan pengelolaan yang baik, pesantren tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.

Tantangan Sistem, Struktur, dan SDM

Meski memiliki potensi besar, Ahmad Bahiej mengakui bahwa upaya mewujudkan pesantren mandiri dan ramah lingkungan menghadapi sejumlah tantangan. Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak bisa hanya bergantung pada kualitas sumber daya manusia pesantren semata.

“Pertama kita bicara sistem dan regulasi, apakah sudah mendukung pesantren untuk bergerak ke arah kemandirian dan Go Green. Kedua struktur, apakah negara sudah menyiapkan pendampingan yang memadai. Baru yang ketiga adalah sumber daya manusia,” paparnya.

Sumber daya manusia yang dimaksud tidak hanya berasal dari internal pesantren, tetapi juga dari pemerintah dan masyarakat yang terlibat dalam proses pendampingan dan penguatan kapasitas. Dengan sinergi antara sistem, struktur, dan SDM, ia optimistis pesantren dapat menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi, pusat dakwah sosial yang membumi, serta pelopor gerakan Go Green yang berkelanjutan di Indonesia.[Zul]