Kejam! Negara Malah Bersyukur Saat 2.835 Anak Keracunan MBG 

Ratusan siswa SMAN 2 Kudus, Jawa Tengah mengalami keracunan MBG/Dok. Ist

UNGKAPAN syukur Kepala BGN karena “hanya” 50 kejadian keracunan MBG sepanjang Januari 2026 bukan sekadar kekeliruan komunikasi publik. Ia justru mencerminkan bagaimana negara memandang risiko, tanggung jawab, dan nilai nyawa manusia terutama anak-anak.

Di balik angka yang terdengar kecil itu tersembunyi fakta yang jauh lebih mengerikan. Lima puluh kejadian bukan berarti lima puluh korban. Sedikitnya 2.835 anak menjadi korban keracunan MBG sepanjang Januari 2026 berdasarkan data monitoring media.

Keselamatan anak-anak dalam jumlah 2.835 orang bukan deviasi kecil dalam program besar. Itu adalah kegagalan sistemik yang seharusnya memicu kegelisahan, bukan rasa syukur.

Masalah paling serius adalah ketika negara mulai berpikir dalam logika persentase. Dari sudut pandang politik, ribuan korban bisa dianggap kecil jika dibandingkan dengan jutaan porsi makanan yang didistribusikan. Tetapi dari sudut pandang perlindungan warga, terutama anak-anak sebagai kelompok rentan, tidak ada ruang untuk konsep “angka yang masih bisa ditoleransi”.

Anak-anak bukan variabel statistik. Mereka bukan margin error dalam proyek kebijakan publik. Ketika makanan yang seharusnya menjadi simbol perlindungan justru menjadi sumber bahaya, maka yang dipertanyakan bukan hanya pelaksanaan teknis, melainkan kesadaran negara itu sendiri terhadap makna tanggung jawab.

Ungkapan syukur tersebut juga memperlihatkan jarak yang semakin lebar antara bahasa kekuasaan dan pengalaman nyata masyarakat. Di ruang birokrasi, angka 50 mungkin terdengar sebagai keberhasilan pengendalian risiko. Di rumah-rumah orang tua yang anaknya muntah, demam, kejang, atau harus dirawat akibat keracunan, angka itu adalah trauma yang nyata.

Negara yang sehat seharusnya berbicara dengan empati lebih dahulu sebelum berbicara tentang capaian. Ketika yang muncul justru rasa syukur atas kecilnya angka insiden, pesan yang sampai ke publik adalah bahwa ancaman terhadap keselamatan anak-anak masih dianggap normal.

Exit mobile version