Hujan lebat memicu pergerakan tanah yang merusak empat hektare lahan perkebunan.
BPBD Banjarnegara mencatat, meski tidak ada korban jiwa, potensi bahaya masih mengintai permukiman.
“Sebanyak 27 unit rumah dan satu fasilitas ibadah terancam tanah longsor. Kami mengimbau masyarakat setempat untuk tetap waspada dan mempersiapkan rencana kesiapsiagaan menghadapi potensi tanah longsor,” bunyi laporan resmi BPBD Banjarnegara.
Di wilayah lain, hujan deras menyebabkan Sungai Kumisik di Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal meluap pada Selasa (10/2).
Banjir setinggi 100 sentimeter merendam 26 rumah warga. Tim Desa Tangguh Bencana sempat mengevakuasi warga ke SDN Dukuh Tengah 01, namun per Rabu (11/2), banjir dilaporkan telah surut.
Kondisi lebih luas terjadi di Kabupaten Kendal pada hari yang sama. Banjir merendam 11 desa dan berdampak pada 805 kepala keluarga serta 1.105 unit rumah.
Hingga Rabu (11/2), delapan desa dilaporkan masih tergenang dengan ketinggian air bervariasi.
Merespons rentetan kejadian ini serta prakiraan BMKG terkait potensi hujan lebat pada 11-13 Februari 2026, BNPB mengeluarkan peringatan keras agar pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap Bencana Hidrometeorologi.
“Kami mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat khususnya di wilayah Provinsi Jawa Tengah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seiring masih tingginya curah hujan,” tulis pernyataan resmi BNPB.
BNPB juga menekankan pentingnya evakuasi mandiri jika kondisi lingkungan mulai tidak kondusif.
“Lakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman jika hujan lebat berlangsung lebih dari satu jam serta membatasi jarak pandang. Segera laporkan potensi ancaman bencana kepada aparat setempat agar upaya penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko dapat diminimalkan,” tambah imbauan tersebut.
Baca Juga: Pergerakan Tanah di Desa Padasari Masih Aktif, 2.453 Warga Kabupaten Tegal Mengungsi
(*Red)
