Diduga berasal dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) wilayah Yahukimo, yang oleh Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz Kombes Yusuf Sutejo disebut sebagai KKB Batalyon Kanibal dan Semut Merah pada Kamis, 12 Februari 2026, mereka membawa dua pilot itu kembali ke lapangan terbang.
Lapangan yang seharusnya menjadi simbol kedatangan dan keselamatan. Di sanalah, di tanah yang masih hangat oleh roda pesawat, dua nyawa diakhiri.
Sekitar pukul 13.00 WIT, informasi diterima. Kapten Egon dan kopilotnya ditemukan tewas.
Dunia penerbangan Indonesia berduka. Tapi duka itu tak mampu mengembalikan denyut yang telah dihentikan secara paksa.
Tiga belas penumpang selamat. Karena mereka warga setempat, kata Wisnu.
Selamat, sebuah kata yang hari itu terasa ganjil. Selamat, tetapi menyaksikan dua orang yang tadi menyelamatkan mereka, justru tak diselamatkan siapa pun.
Pesawat PK-SNR masih terdiam di bandara. Sunyi. Seperti menunggu tangan yang tak akan pernah lagi menggenggam tuas kendalinya.
Kapten Egon dikenal sebagai pilot pemberani, berdedikasi tinggi. Ia memilih terbang di wilayah rawan konflik. Ia tahu risikonya. Tapi ia juga tahu ada warga yang menunggu.
Ada anak yang butuh buku. Ada ibu yang butuh obat. Ia terbang bukan untuk tepuk tangan. Ia terbang untuk pengabdian.
Konon, pesan darurat terakhirnya menjadi saksi perjuangan. Dalam detik-detik genting itu, ia tetap memikirkan penumpangnya.
Bayangkan sebuah rumah di tempat lain. Mungkin ada seorang ibu yang sedang menanak nasi, menunggu kabar anaknya. Mungkin ada istri yang menyimpan seragam pilot dengan bangga.
Mungkin ada anak kecil yang pernah berkata, “Ayah kerja di langit.”
Hari itu, langit tak memeluk ayahnya. Langit menyerahkannya pada peluru.
Kita sering berbicara tentang konektivitas, tentang pembangunan, tentang negara hadir hingga pelosok. Namun di Bandara Korowai Batu, konektivitas berlubang oleh timah panas.
Pembangunan roboh oleh kebencian. Negara kini memburu “masih diburu,” ujar Kombes Yusuf, tetapi dua jenazah telah lebih dulu dipulangkan dalam sunyi.
Papua kembali basah oleh air mata. Hutan menyimpan gema tembakan. Angin membawa cerita pilu yang tak tertulis di tiket penerbangan. Di atas sana, mungkin langit bertanya, mengapa sayap yang membawa harapan justru ditembak jatuh?
Jika pembaca masih mampu menahan air mata setelah membaca ini, mungkin hati kita sudah terlalu sering terbiasa pada tragedi. Sebab di tanah itu, pada Rabu siang yang kelam, dua lelaki gugur bukan karena perang yang mereka pilih, melainkan karena mereka setia mengantarkan orang lain pulang.
Baca Juga: Pesawat ATR 400 Hilang Kontak: Komisi V DPR Desak Pencarian Maksimal di Maros
Oleh : Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)
*Disclaimer : Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi
