Menakar Peluang Titik Temu Negosiasi Putaran Dua AS-Iran yang Berlangsung di Jenewa Besok

Rombongan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi yang akan mengikuti negosiasi putaran dua yang berlangsung di Jenewa, Swis pada 17 Februari 2026/Fb. Tengku Zulkifli.

Sedangkan Iran akan tetap pada pilihan mereka untuk pertahanan dan kedaulatan negara, Ali Khamenei tidak memberikan lampu hijau untuk tunduk pada tekanan AS di meja runding Jenewa besok.

Apa yang nantinya akan terjadi? Di Jenewa, kecil kemungkinan AS dan Iran akan menemukan titik temu, terutama jika AS memaksakan kehendak agar Iran meninggalkan nuklir dan membatasi Jangkauan Rudal balistik.

Jika dua tema ini dipaksakan AS dan Israel, negosiasi di Jenewa dipastikan akan Deadlock dan akan membuka peluang perang.

“Negosiasi kemungkinan akan menemukan titik temu jika saja AS mau mengakui hak nuklir Iran, tidak menyinggung tema rudal balistik Iran dan Proxi Iran,” nilai Tengku Zulkifli.

Satu satunya tema yang kemungkinan mempertemukan negosiasi ini hanya soal menurunkan angka pengayaan uranium ke level uranium damai 20%. Dengan kompensasinya, AS akan mencabut sanksi dan tekanan ekonomi. Juga melepaskan dana Iran diluar negeri yang dibekukan barat.

Selain hal tadi, tema tema dialog lain kemungkinan akan kecil diterima Iran. Dan kemungkinan negosiasi ini Deadlock jika AS memperluas pembahasan ke tema tema lainnya yang disarankan Netanyahu.

Sikap Iran yang saat ini tidak banyak berubah, jika kita menganalisa dengan cermat, ada pada faktor utama penting. Yaitu kesiapan Iran dalam pilihan perang.

Dua kapal induk AS dan puluhan kapal perang yang sudah dikirim Trump sama sekali tidak mempengaruhi pengambilan keputusan di Tehran. Terutama keputusan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.

“Iran dalam situasi siap perang, dan dukungan Rusia dan China juga meningkat pesat kepada Iran bahkan sejak pasca perang 12 hari Juni tahun lalu,” ungkap Tengku Zulkifli.

Faktor kesiapan inilah sebenarnya yang membuat Iran bisa ke Jenewa dengan lebih tenang, kesiapan angkatan bersenjata Iran saat ini ada dalam kondisi prima untuk setiap kemungkinan serangan.

“Seperti yang pernah saya tulis di beberapa analisis sebelumnya, bahwa perang Iran dan AS jikapun meletus, maka ini tidak akan menjadi perang skala besar dan full scale war,” ungkap Tengku Zulkifli.

Sekutu Iran terutama China dan Rusia tidak akan menerima jika AS melakukan serangan besar dan perang besar di kawasan itu. Ini akan masuk persoalan strategis bagi Rusia dan China.

Meskipun Trump saat ini mengancam akan melakukan perang panjang dan kemungkinan persiapan perang beberapa Minggu atau bulan. Itu sangat sulit terjadi di lapangan. Karena Iran bukan negara lemah yang mudah ditaklukkan.

Iran adalah negara penting bagi China dan Rusia, membakar kawasan itu dengan perang besar adalah garis merah Rusia dan China. Kalkulasi global akan lain jika Trump nekat.

“Jika AS ingin menaklukkan Iran, solusinya hanya perang besar tanpa batas, tapi jika opsi ini dipilih AS, bukan hanya AS dan Israel saja yang tidak mampu menanggung beban, tapi dunia global secara menyeluruh juga tidak sanggup menanggung akibatnya, terutama Rusia dan China juga tidak akan menerima kondisi ini,” pungkas Tengku Zulkifli.[Zul/Sumber: Facebook].