“Saya menanyakan usia mereka dan anak-anak yang saya kira berusia empat, lima, enam tahun, ternyata berusia sepuluh, sebelas, dua belas tahun. Kemudian saya mengetahui bahwa 25 persen anak-anak kita mengalami stunting, pertumbuhan terhambat,” ucap Presiden dalam sambutannya di Washington DC.
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa hambatan fisik tersebut merupakan sinyal bahaya bagi daya saing ekonomi Indonesia di masa depan.
Stunting bukan hanya masalah kesehatan, melainkan ancaman bagi produktivitas nasional dalam jangka panjang.
Prabowo menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang inklusif tidak akan tercapai selama diskrepansi kualitas hidup masih terjadi di tingkat akar rumput.
Baginya, mustahil mengundang investasi besar tanpa membenahi fondasi dasar manusia yang akan menjalankan roda ekonomi tersebut.
Pemerintah saat ini menargetkan percepatan penurunan angka stunting melalui berbagai program strategis, termasuk penguatan gizi nasional yang menjadi salah satu pilar kebijakan utamanya.
Keberanian Presiden mengungkap data “dapur” di kancah internasional ini dinilai sebagai upaya untuk menarik kolaborasi strategis dalam pengembangan teknologi pangan dan kesehatan.
Prabowo menekankan bahwa ekonomi yang kuat harus berdiri di atas kaki generasi yang sehat secara fisik dan kognitif.
Kunjungan kerja ke Washington ini tidak hanya membawa misi perdagangan, tetapi juga menjadi panggung bagi Presiden untuk menunjukkan bahwa pemberantasan stunting adalah prioritas kedaulatan nasional yang tidak bisa ditawar.
Baca Juga: Badan Gizi Nasional Prioritaskan Ibu Hamil dan Balita dalam Program Makan Bergizi Gratis
