Opini  

SEKARANG BUKAN WAKTUNYA MENJILAT

(foto:aljazeera)

FAKTANASIONAL.NET – Dunia sedang memasuki periode yang semakin tidak stabil. Konflik militer, ketegangan geopolitik, dan tarik-menarik kepentingan ekonomi antarnegara kini terjadi secara bersamaan.

Dalam situasi seperti ini, keputusan politik sebuah negara tidak lagi sekadar soal retorika atau pencitraan. Ia menentukan stabilitas ekonomi, keamanan energi, bahkan posisi diplomasi negara di panggung global.

Indonesia saat ini berada di tengah pusaran beberapa isu strategis internasional yang dampaknya sangat besar. Konflik geopolitik yang melibatkan kekuatan besar dunia, negosiasi ekonomi dengan negara adidaya, hingga keterlibatan Indonesia dalam inisiatif politik global yang kontroversial.

Ketiganya bukan isu kecil. Ketiganya memiliki konsekuensi langsung terhadap kepentingan nasional.

Dampaknya bisa merambat ke banyak sektor sekaligus.

Dari sisi ekonomi, gejolak geopolitik global berpotensi memicu lonjakan harga energi dan komoditas strategis. Negara seperti Indonesia—yang masih bergantung pada impor energi—akan menghadapi tekanan pada anggaran negara, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Baca Juga: Rayakan 75 Tahun Diplomasi, Prabowo Temui Raja Abdullah II di Amman

Setiap gangguan pada pasar global bisa berubah menjadi masalah domestik seperti biaya logistik naik, harga pangan terdorong naik, dan beban subsidi membengkak.

Dari sisi perdagangan, kesepakatan ekonomi dengan negara besar selalu membawa implikasi jangka panjang. Perjanjian yang tidak seimbang dapat memperlemah posisi industri nasional, memperbesar ketergantungan ekonomi, dan membatasi ruang kebijakan negara di masa depan.

Kesalahan membaca situasi global bisa membuat sebuah negara terkunci dalam hubungan ekonomi yang tidak menguntungkan.

Sementara itu, dari sisi diplomasi, posisi Indonesia dalam berbagai forum internasional ikut dipertaruhkan.

Reputasi yang dibangun selama puluhan tahun—sebagai negara yang aktif dalam diplomasi perdamaian dan menjaga prinsip independensi—bisa terganggu jika langkah yang diambil terlihat inkonsisten atau terlalu mengikuti kepentingan pihak lain.