Dengan kata lain, isu-isu yang sedang berkembang saat ini bukan sekadar perdebatan politik biasa. Ia menyangkut stabilitas ekonomi nasional, kemandirian kebijakan negara, dan kredibilitas diplomasi Indonesia di mata dunia.
Justru karena dampaknya begitu besar, yang dibutuhkan adalah diskusi yang jujur dan analisis yang tajam.
Negara memerlukan pejabat yang berani menyampaikan realitas, menghitung risiko, dan memikirkan kepentingan jangka panjang.
Namun yang sering terlihat di ruang publik justru kecenderungan sebaliknya. Kritik terhadap kebijakan dianggap sebagai serangan politik. Pertanyaan strategis diperlakukan seolah-olah bentuk ketidaksetiaan.
Sebagian pejabat tampak lebih sibuk menunjukkan loyalitas kepada penguasa daripada menjelaskan risiko kebijakan secara terbuka.
Budaya seperti ini mungkin terlihat aman secara politik, tetapi berbahaya bagi negara.
Dalam sistem yang sehat, pemimpin membutuhkan informasi yang jujur—bukan pujian yang berlebihan. Keputusan strategis yang menyangkut masa depan bangsa tidak boleh didasarkan pada narasi yang dibuat agar menyenangkan atasan.
Sejarah politik dunia berulang kali menunjukkan bahwa negara sering membuat kesalahan besar bukan karena kekurangan informasi, tetapi karena para pembantunya takut berbicara jujur.
Indonesia adalah negara besar. Anggota G20. Ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Negara dengan pengaruh politik yang tidak kecil di dunia berkembang.
Negara dengan posisi seperti ini tidak perlu menjilat siapa pun.
Dan di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, satu hal menjadi semakin jelas. Ini bukan waktunya cari muka. Ini waktunya berpikir serius tentang kepentingan negara.
HAMDI PUTRA
Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)











