“Kemudian harga-harga akibat dari distribusi juga masih terpengaruh sehingga rantai pasok dari hasil perikanan juga berpotensi mengakibatkan penurunan volume ekspor hingga penurunan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global,” tambahnya.
Meskipun sektor perikanan mencatatkan performa gemilang sepanjang 2025 dengan nilai ekspor mencapai 6,27 miliar Dolar AS, tanda-tanda perlambatan mulai terlihat di awal tahun 2026.
Hingga Februari 2026, nilai ekspor tercatat baru menyentuh 960 juta Dolar AS, angka yang menunjukkan tren lesu jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ancaman El Nino Godzilla dan Risiko Ekologis
Tantangan sektor perikanan tahun ini semakin kompleks dengan hadirnya fenomena iklim ekstrem El Nino Godzilla.
Fenomena ini membawa dampak ekologis yang serius, mulai dari kerusakan ekosistem pesisir hingga masalah pada perikanan budidaya.
Tingginya tingkat penguapan (evaporasi) menyebabkan lonjakan salinitas atau kadar garam, yang dapat memicu wabah penyakit pada komoditas tambak.
Selain itu, kondisi ini mengancam ekosistem karbon biru, yang jika rusak, akan meningkatkan emisi karbon secara signifikan.
Menteri KP berharap tensi global, terutama yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, dapat segera mereda. Stabilitas global dinilai menjadi kunci utama agar kinerja ekspor perikanan Indonesia kembali terakselerasi dan beban ekonomi yang dipikul nelayan kecil dapat ditekan seminimal mungkin.
