Opini  

Ironi MBG: Anggaran Ratusan Triliun Tapi Kepuasan Cuma Pas-pasan

Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan menghentikan sementara aktivitas operasional dapur selama libur sekolah guna melakukan evaluasi fasilitas dan penerapan standarisasi baru mulai Rabu (17/6/2026)./net.

FAKTANASIONAL.NET – Temuan survei Poltracking Indonesia menunjukkan fenomena menarik. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang sangat populer, tapi tingkat kepuasan masyarakat ternyata hanya menyentuh angka 55%.

Angka tersebut sebenarnya bukan sebuah prestasi, melainkan sinyal adanya jarak antara janji politik dengan kenyataan di lapangan.

Dalam dunia kebijakan publik, kondisi ini sering disebut sebagai “ilusi kebijakan”. Artinya, sebuah program terlihat sangat indah secara konsep, namun cara menjalankannya belum mampu memenuhi harapan masyarakat yang menerimanya.

Populer Belum Tentu Berhasil

Mengapa program ini sangat populer? Karena sifatnya langsung menyentuh kebutuhan dasar (pangan) dan gratis.

Kebijakan semacam ini sangat mudah meningkatkan citra positif pemerintah tanpa perlu penjelasan yang rumit.

Namun, popularitas yang tinggi ini lebih banyak didorong oleh simbol “peduli rakyat”, bukan karena kualitas kinerjanya sudah terbukti bagus.

Angka 55% Adalah Peringatan

Sebaliknya, tingkat kepuasan yang hanya 55% harus dianggap sebagai peringatan serius.

Dalam standar evaluasi, angka di bawah 60% menunjukkan adanya masalah besar dalam pelaksanaan. Entah itu karena birokrasi yang belum siap, distribusi yang berantakan, atau kualitas makanan yang tidak sesuai standar.

Singkatnya, hampir separuh masyarakat merasa tidak mendapatkan manfaat maksimal.

Pemerintah mungkin berhasil memenangkan persepsi publik di awal, tapi gagal memberikan pengalaman nyata yang memuaskan.

Masalah Ekspektasi dan Kesiapan

Program dengan label “gratis” secara otomatis membuat masyarakat berharap banyak.

Ketika ada sedikit saja masalah pada kualitas makanan atau distribusi yang tidak merata, masyarakat akan langsung merasa kecewa.

Exit mobile version