“Jika blokade ini terus berlanjut, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka,” tulis Ghalibaf melalui akun X miliknya, melansir AFP.
Akses Berdasarkan Izin Teheran
Teheran secara terang-terangan menyatakan bahwa mereka akan menggunakan kendali geografis mereka atas Selat Hormuz sebagai alat tawar politik dan militer. Ghalibaf menambahkan bahwa ke depannya, setiap akses kapal melalui jalur tersebut harus melalui prosedur perizinan dari otoritas Iran.
“Akses melalui jalur air tersebut akan bergantung pada izin dari Iran,” tambahnya.
Dampak Terhadap Pasar Energi
Penutupan kembali Selat Hormuz ini diprediksi akan memberikan tekanan hebat pada pasar energi global.
Mengingat sebagian besar ekspor minyak mentah dari negara-negara Teluk harus melewati selat sempit ini, para analis khawatir volatilitas harga BBM dunia akan semakin tidak terkendali.
Kondisi ini selaras dengan laporan penyesuaian harga BBM nonsubsidi di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang mulai merasakan dampak domino dari lonjakan harga energi akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah ini.
Saat ini, mata dunia tertuju pada reaksi Gedung Putih. Apakah AS akan melonggarkan blokade pelabuhan Iran untuk menurunkan tensi, atau justru meningkatkan kehadiran militernya yang berisiko memicu konflik terbuka di salah satu urat nadi ekonomi dunia tersebut.











