FAKTANASIONAL.NET – Pernahkah Anda menyadari sebuah ironi klasik dalam dunia profesional?
Banyak divisi atau tim dalam satu organisasi justru menghabiskan energi untuk saling jegal di bawah naungan bendera yang sama.
Padahal, logika bisnis yang sehat seharusnya mendorong mereka untuk merapatkan barisan, berjuang bersama, dan menaklukkan bendera kompetitor di luar sana.
Fenomena sikut-sikutan internal ini bukan kebetulan semata, melainkan buah dari budaya kerja yang salah arah.
Mengapa gesekan internal begitu rentan terjadi? Akar masalahnya kerap bermuara pada ego sektoral dan sistem penghargaan yang keliru.
Ketika manajemen hanya memberi apresiasi berdasarkan pencapaian divisi semata tanpa melihat kontribusi silang, persaingan tidak sehat otomatis tercipta. Setiap tim menjadi sibuk membangun “kerajaan” eksklusif mereka demi validasi internal.
Akibatnya, pandangan mereka menyempit. Mereka lupa bahwa musuh yang sesungguhnya bukanlah rekan kerja di seberang meja, melainkan kompetitor yang siap merebut pangsa pasar. Mentalitas silo semacam ini merugikan produktivitas dan membunuh potensi kolaborasi strategis.
Untuk menghentikan sabotase tak kasat mata ini, para pemimpin wajib mendefinisikan ulang makna kemenangan. Bendera perusahaan harus dihayati sebagai simbol kesatuan, bukan sebagai arena gladiator.











