Selain isu perluasan akses komersial, perbincangan menukik tajam pada stabilitas energi dunia. Pihak Gedung Putih mengonfirmasi adanya mufakat untuk menjaga Selat Hormuz tetap beroperasi tanpa ancaman militerisasi atau pemungutan tarif tol gelap.
Sebagai wujud itikad baik, Tiongkok berencana menyerap lebih banyak pasokan minyak mentah Amerika demi memangkas ketergantungan pada Timur Tengah, sembari memastikan pencegahan peredaran fentanyl ke daratan AS.
Di balik optimisme kerja sama pertanian hingga pariwisata, negosiasi ini tetap menyimpan ketegangan diplomatis, khususnya menyangkut polemik Semenanjung Korea, krisis Ukraina, dan status teritorial. Presiden Xi Jinping menggunakan intonasi paling tegas saat menyinggung perkara Taiwan.
Ia melabelinya sebagai aspek paling fundamental sekaligus paling sensitif dalam jalinan hubungan Washington dan Beijing. Xi memperingatkan dengan lugas bahwa kesalahan kalkulasi dalam menangani isu kedaulatan ini bisa memantik benturan destruktif. Sebaliknya, pendekatan yang bijaksana diyakini mampu menyelamatkan kemitraan kedua raksasa ekonomi tersebut dari jurang kehancuran.[dit]
