Tujuannya sangat jelas, yakni guna menjamin armada tempur Indonesia memiliki daya tawar tinggi di gelanggang internasional, tanpa harus terus-menerus didikte atau terikat utuh oleh kekuatan hegemonik negara adidaya tertentu.
Lebih jauh, Amir memberikan peringatan tegas bahwa ketergantungan absolut pada pihak luar akan senantiasa melahirkan kerentanan fatal bagi sebuah negara berdaulat.
“Tidak ada negara yang benar-benar mandiri apabila seluruh kebutuhan strategisnya bergantung kepada negara lain,” ungkapnya secara gamblang merujuk pada urgensi langkah sang Presiden.
Dalam lanskap dunia modern yang sarat akan persaingan kekuatan besar (great power competition), supremasi teknologi militer kerap dijadikan instrumen mematikan untuk menyetir arah kebijakan negara berkembang.
Oleh karena itu, diplomasi militer Prabowo ke Prancis dinilai sebagai langkah preventif yang jenius.
Melalui diversifikasi pasokan pertahanan ini, Jakarta sedang memastikan secara mutlak bahwa sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak akan pernah bisa disandera oleh embargo atau manuver politik dari negara pemasok mana pun di masa depan.[dit]
